Senin, 03 Oktober 2011

Teknik Budidaya Lele dengan Kolam Terpal


Ikan Lele merupakan keluarga Catfish yang memiliki jenis yang sangat banyak, diantaranya Lele Dumbo, Lele Lokal, Lele Phyton, Lele Sangkuriang dan lain-lain. Pada tulisan terdahulu sudah dituliskan mengenai Budi Daya Ikan Guramih Pada Kolam Terpal, pada kesempatan ini akan dibahas budi daya ikan lele dumbo pada Kolam terpal. Budi Daya Ikan Lele dumbo relatif lebih mudah dan sederhana jika dibandingkan dengan budi daya guramih. Pada dasarnya metode Budi Daya ini adalah solusi untuk beberapa kondisi antara lain lahan yang sempit, modal yang tidak terlalu besar dan solusi untuk daerah yang minim air. Lele Dumbo merupakan ikan yang memiliki beberapa keistimewaan dan banyak diminati orang.

Aneka masakan dari lele bisa diperoleh dengan mudah, rasa daging yang lezat dan gurih membuat bisnis budi daya lele menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan keuntungan. Selain itu Lele dumbo lebih mudah dipelihara dan cepat dalam pertumbuhannya. Dengan kondisi air yang “buruk” Lele dumbo bisa bertahan hidup dan berkembang dengan baik, dengan demikian solusi pemeliharaan lele dumbo dengan terpal menjadi alternatif yang perlu dicoba. Budi Daya Ikan Lele dumbo dengan Kolam terpal mendatangkan peluang usaha yang cukup menjanjikan dan tidak memerlukan modal usaha yang besar. Analisis budi daya Lele Dumbo dapa dilakukan dalam berbagai model untuk konsumsi dan pembibitan.

Model Budi Daya Lele Dumbo





Peluang usaha Budi daya lele dumbo dengan kolam terpal dapat dilakukan dalam beberapa bentuk antara lain, tujuan pembibitan dan tujuan konsumsi. Budi daya Ikan Lele Dumbo sebagai bibit merupakan upaya memenuhi kebutuhan bibit yang terus meningkat seiring dengan permintaan Ikan Lele Dumbo Konsumsi. Budi Daya Ikan Lele Dumbo Konsumsi merupakan upaya memelihara Ikan Lele Dumbo sampai ukuran dan bobot tertentu. Biasanya dari berat 1 ons per ekor ikan lele dumbo sampai 1 kg per ekor. Ukuran Lele Dumbo 1 Kg /ekor ke atas biasanya digunakan pada kolam pemancingan yang berisi Lele dumbo.

Budi Daya Lele Dumbo Untuk Pembibitan

Peluang Usaha Budi Daya Lele dumbo Untuk tujuan pembibitan bisa dilakukan antara lain:
- Pemijahan dan penetasan telur lele dumbo, setelah menetas bisa dijual kepada peternak lain untuk dibesarkan atau dipelihara lagi sampai besar. Karena bibit lele dumbo baru menetas sudah bisa dijual, sehingga merupakan peluang usaha bagi yang memilih menekuni bidang ini. Jika lahan yang tersedia sempit solusi ini bisa menjadi alternatif. Modal untuk usaha ini hanya tempat dan indukan lele dumbo. Bibit Lele dumbo baru menetas biasanya dihargai berdasarkan perkiraan jumlah anakan Lele Dumbo, yang ditentukan berdasarkan bobot induk dan jumlah induk Lele Dumbo.
- Penyediaan Bibit Ukuran 2-3 cm, dalam kurun waktu satu bulan setelah menetas bibit lele dumbo telah mencapai ukuran 2-3 cm dan siap untuk dijual ke pasaran. Pembesaran benih lele dari menetas hingga ukuran ini idealnya ditempatkan pada kolam lumpur atau sawah, sehingga memerlukan lahan yang relatif luas. Meski di kolam terpal tetap bisa dilakukan tetapi tidak bisa dalam jumlah yang besar, meski demikian peluang usaha tetap terbuka. Pembesaran Lele Dumbo pada bak atau kolam terpal pada ukuran ini memerlukan makanan tambahan berupa pelet buatan pabrik.
- Penyediaan Bibit ukuran 5-7 cm, pada ukuran 5-7 cm benih lele dumbo siap dijual sebagai bibit yang mendatangkan peluang usaha. Biasanya ukuran ini dipelihara oleh peternak sampai ukuran layak konsumsi.

Pemeliharaan Lele Dumbo Untuk Konsumsi

Lele dumbo untuk keperluan konsumsi biasanya dipelihara mulai dari ukuran 5-7 cm atau lebih besar, untuk hasil panen cepat bisa dilakukan dalam waktu 2 bulan dengan pemberian makanan yang ekstra dan optimal. Peluang usaha budi daya lele dumbo untuk konsumsi ini relatif lebih mudah karena ukuran lele yang besar lebih tahan terhadap penyakit, dan tingkat hidup lebih tinggi. Untuk mendapatkan ukuran lele dumbo yang lebih besar memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan.

Persiapan Pembuatan Kolam Terpal

Persiapan untuk budi daya lele dumbo dengan kolam terpal meliputi persiapan lahan kolam , persiapan material terpal ,dan persiapan perangkat pendukung. Lahan yang perlu disediakan disesuaikan dengan keadaan dan jumlah lele yang akan dipelihara. Untuk Pembesaran sampai tingkat konsumsi bisa digunakan lahan dengan ukuran 2 x 1x 0.6 meter, yang bisa diisi dengan 100 ekor lele dumbo ukuran 5-7 cm. Model pembuatan kolam bisa dengan menggali tanah kemudian diberi terpal atau dengan membuat rangka dari kayu yang kemudian diberi terpal. Cara pertama lebih membuat terpal tahan lebih lama.

Pemeliharaan Lele Dumbo

Pertama kali kolam terpal diisi dengan air yang tidak terlalu dalam terlebh dahulu, untuk lele dumbo ukuran 5-7 cm bisa diisi air 40 cm terlebih dahulu, agar ikan tidak terlalu capek naik dan turun dasar kolam untuk mengambil oksigen, seiring dengan bertambahnya usia dan ukuran kedalaman air ditambah. Perlu disediakan pula rumpon atau semacam perlindungan untuk lele. Karena lele merupakan ikan yang senang bersembunyi di daerah yang tertutup.

Pemberian pakan dilakukan dengan pemberian pelet sehari dua kali, lebih bagus lagi lebih dari dua kali tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit. Jika di lingkungan tersedia pakan alami seperti Bekicot, kerang, keong emas, rayap dan lain-lain, bisa diberikan makanan alami tersebut. Makanan alami selain bisa menghemat pengeluaran juga memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga pertumbuhan lele dumbo lebih cepat. Selain itu ada beberapa teknologi yang bisa dipakai untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele dan ikan lainnya.

Meski Lele dumbo tahan terhadap kondisi air yang buruk ada baiknya perlu diganti air sekitar 10-30% setiap minggu, agar kolam tidak terlalu kotor dan berbau. Penyakit pada ikan lele mudah menyerang pada air yang kotor. Pada usia satu bulan atau jika diperlukan perlu dilakukan seleksi dan pemisahan lele yang memiliki ukuran yang berbeda. Biasanya lele mengalami pertumbuhan yang tidak sama, sehingga jika tidak dipisahkan lele dengan ukuran kecil akan kalah bersaing dalam berebut makanan. Selain itu pisahkan jika ada ikan yang terindikasi terserang penyakit agar tidak menular. (Sumber : Galeriukm.web.id)

Mandi Bola

Permainan mandi bola



Ketika liburan sekolah, salah satu permainan yang menjadi kegemaran anak-anak adalah mandi bola, sebagai orang tua harus ngerti dan bisa membawa dan mengajak anak-anaknya sesekali untuk dapat berlibur mengajak mereka untuk menikmati hiburan dan liburan yang mereka sukai, jangan sampai karena kesibukan kita, kita terkadang sama sekali tidak menghiraukan kemauan si anak, dan terkadang pula kita berpendapat bahwa ketika kita sudah memberikan fasilitas untuk anak berupa kemewahan, mobil dengan sopir pribadi, tontonan apa saja diberikan, dan apapun yang anak inginkan selalu terpenuhi, padahal bukan seperti itu yang terkadang anak-anak inginkan dan tidak cukup pula mereka suruh bermain sendiri dan didampingi oleh pembantu, namun cobalah kita temani mereka ketika mereka sedang bermain.

Oleh karena itulah, adanya momen liburan sekolah anak menjadi sangat penting. Namun bagi sebagian orangtua, adanya liburan sekolah anak, kadang-kadang justru menimbulkan masalah atau kesulitan bagi mereka. Kesulitan dalam mencari aktivitas liburan yang bermanfaat bagi anak, kesulitan menyesuaikan waktu cuti orangtua dengan waktu libur anak serta adanya keterbatasan dana orangtua untuk membiayai aktivitas liburan anak, merupakan beberapa contoh kesulitan yang bisa dialami orangtua dalam menghadapi liburan sekolah anak.



Untuk mengatasi kesulitan mencari aktivitas liburan yang bermanfaat bagi anak, diperlukan wawasan pengetahuan orangtua dan anak dalam mengisi liburan sekolah agar momen liburan yang ada, dapat dipergunakan secara efektif. Kurangnya wawasan pengetahuan mengenai berbagai alternatif kegiatan liburan yang bermanfaat, dapat membuat anak kehilangan fungsi utama dari adanya liburan dan bukan tidak mungkin bahkan dengan adanya liburan, justru menimbulkan rasa jenuh dan menurunkan kesegaran tubuh anak. Misalnya membuat anak menjadi terbiasa bermalas-malasan, menonton televisi sepanjang hari, dsb.

Kawasan Wisata Danau Setu Babakan

Setu Babakan
2 Oktober 2011



Salah satu tempat rekreasi keluarga sekalian mengenang betapa banyaknya kawasan rekreasi betawi dan juga sangat beragam dan banyak sekali budaya rakyat betawi, diantara salah satunya adalah kawasan perairan atau sebuah danau dengan air yang sejuk jernih pemandangan yang sangat indah, sangat terkenal dengan sebutan danu “Setu Babakan”, orang dengan senangnya mengajak saudara, teman, anak, ponakan, keluarga dan lain-lainnya hanya ingin menikmati keindahan dan kesejukannya.


Selalku pengunjung dapat dengan mudah mendapatkan berbagai jenis makanan khas betawi seperti, kerak telor, toge rebus atau goring, laksa, asinan dan masih banyak lagi cirri khas betawi dan ada juga khas betawi lainnya yang sesekali ditampilkan di sana yaitu penampilan lenong yang secara otomatis dapat membawa semangat dan menjadi hiburan bagi para penunjang.


Suasana di tepi danau yang biasanya ramai warga saat bulan Ramadhan ini terlihat lengang. Padahal, jalan masuk menuju Setu Babakan dipenuhi kendaraan. Pepohonan rindang dan angin semilir menghiasi danau yang terletak di Jagakarsa, Jakarta Selatan.


Suasana sejuk inilah yang membuat warga betah. Banyak orang yang berdatangan kesana karena dengan berbagai alas an, ada yang karena ingin melihat-lihat saja, ada yang ingin mencari makanan yang mungkin sudah langka dan hanya bias di temukan di sana dan ada pula yang ingin berduaan, weekend-an dan banyak lagi macam alasan. Dan ada juga yang mengaku datang ke Setu Babakan karena senang dengan suasananya.

Bagi yang ingin mencoba keindahan dan kesejukan Setu Babakan, silahkan ajak teman, saudara, ponakan, anak, dan siapapun yang ingin …. Selamat menikmati

Rabu, 28 September 2011

Teknik dan Cara Budidaya Daun Bawang (Muncang)


Cara Budidaya Bawang Daun / Daun Bawang (Muncang)
Update terakhir: 28 September 2011

Muncang banyak ditanaman dan dibudidayakan dengan pola tanam tumpang sari. Sistem tumpang sari yang sekarang banyak ditanam adalah dengan tanaman sawi, cabe, wortel dan sayuran daun lain. Sebenarnya budi daya tanaman daun bawang relatif sangat mudah. yang lebih menggembirakan adalah hasil dari panennya sangat mudah untuk dipasarkan dan bahkan para tengkulak akan datang untuk survey dan bahkan akan langsung bayar di tempat untuk melakukan pembayaran secara tunai, dengan harga jual yang relatif stabil dan menguntungkan. Berminat untuk mencoba, baca dulu ulasan berikut ini !

Tips untuk memulai usaha

1. Pilihlah lahan yang sesuai untuk penanaman bawang daun. Disini tanah yang paling cocok untuk tanaman daun bawang adalah yang banyak mengandung humus. Sebaiknya dilakukan 15-30 hari sebelum tanam.

2. Selanjutnya, buatlah persemaian. Caranya, olah tanah, lalu tanam biji atau anak tunas sebagai bibit. Untuk 1 ha lahan, dibutuhkan bibit (tunas) sebanyak 200.000 anakan atau 1,5-2 kg biji.

Disarankan untuk hasil yang terbaik hendaknya lebih baik menggunakan bibit yang dari tunas atau anakan bukan dari persemaian, karena disamping waktunya lama, belum tentu hasil dari persemaiana tadi akan mengahsilkan bibit yang berkualitas.

3. Siapkan lahan untuk penanaman. Caranya, cangkul tanah sedalam 30-40 cm, kemudian berikan pupuk kandang sebanyak 10-15 ton/ha. Buat bedengan selebar 0,6-1 m. Buat parit dengan lebar 20-30 cm di antara bedengan. Pengapuran dilakukan jika tanah ber-pH < 6.5 dengan 1-2 ton/ha kapur dolomit dicampur merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm.

4. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm sedalam 10 cm.

5. Pindahkan bibit ke lahan penanaman setelah berumur 2 bulan (tingginya 10-15 cm).

6. Waktu tanam terbaik awal musim hujan (Oktober) atau awal kemarau (Maret). Kendala Budidaya Bawang Daun Jenis Tanaman daun bawang ini mudah terserang hama dan penyakit, terutama pada musim hujan.

Berikut beberapa jenis hama dan penyakit yang umum menyerang tanaman bawang daun ini, yakni :

- Ulat bawang/ulat grayak (Spodoptera exiqua Hbn.) Pengendalian: cara pergiliran tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae dan pengendalian kimia dengan Hostathion 40 EC, Orthene 75 SP, Cascade 50 EC atau dengan perangkap ngengat.

- Busuk daun/embun tepung (Peronospora destructor (Berk.) Casp) Pengendalian: menggunakan benih/bibit sehat, rotasi tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae dan fungisida Dithane M-45, Antracol 70 WP atau Daconil 75 SP.

- Thrips/kutu loncat/kemeri (Thrips tabbaci Lind.) Pengendalian: pergiliran tanaman bukan Liliaceae; menanam secara serempak; memasang perangkap serangga berupa kertas/dengan insektisida Mesurol 50 WP.

- Busuk leher batang (Bortrytis allii Munn.) Gejala: leher batang menjadi lunak, berwarna kelabu, bentuknya menjadi bengkok dan busuk. Pengendalian: pergiliran tanaman bukan Liliacea, penggunaan benih/bibit sehat, meningkatkan kebersihan kebun dan tanaman dan fungisida Dithane M-45 atau Daconil 75 WP.

Strategi Budidaya Bawang Daun

- Pastikan lahan sudah diolah sebelum ditanami sehingga unsur hara yang diperlukan tanaman bawang daun tercukupi.
- Lakukan upaya pengendalian penyakit sedini mungkin, antara lain dapat dilakukan dengan cara menyemprotkan pestisida sesuai anjuran.
- Setelah tanaman bawang daun berumur 3-4 minggu, berikan pupuk urea sebanyak 3 g untuk setiap tanaman.
- Lakukan panen bawang daun setelah berumur 2,5 bulan sejak ditanam atau sekitar 4 bulan dari biji disemai. Tanaman yang baik dapat menghasilkan 10 ton/ha bawang daun.
- Sebelum kanopi tanaman utama saling menutup, bawang daun harus sudah dipanen.
- Gali informasi dan pengetahuan mengenai budidaya bawang daun melalui berbagai media seperti buku, majalah, pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan kegiatan pertanian dan perkebunan dsb.

sumber dari : www.binaukm.com

Budidaya Jamur Tiram

Budidaya Jamur Tiram lebih Mudah dengan Media Murah


Edisi 325 Minggu, 13 Maret 2005

AGRIBISNIS jamur tiram, di Nusa Tenggara Barat, sampai saat ini masih tergolong hal baru. Di Jawa dan Bali, bisnis ini sudah cukup lama dikenal. Di Lombok, tidak banyak bahkan bisa dikatakan hanya satu dua saja yang menggeluti usaha ini. Salah satunya adalah usaha yang dirintis Ir. M. Mahrup Kaseh sejak tahun 1989. Hingga kini usaha itu masih bertahan dan terus melakukan inovasi pada teknik budidaya dan pengembangan pemasarannya sehingga menjadi agribisnis yang utuh dan mudah dilaksanakan sebagai teknologi tepat guna yang ramah lingkungan.

Pengembangan teknik budidaya ini dipermudah dengan menggunakan bibit sebar dedan dengan media yang mudah dan murah. Alat pres dan alat sterilisasi direkayasa sendiri sehingga mudah dilaksanakan dengan hasil yang baik. “Teknik dan alat yang digunakan merupakan hasil pencarian terus menerus,” ungkap pensiunan PNS ini yang mengaku, belajar membudidayakan jamur lewat buku, potongan-potongan koran, majalah dan informasi yang ia kumpulkan.
Di Mataram, menurut, Ir. Parman, Ph.D, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Mataram, yang selama ini peduli dalam penelitian dan permasalahan jamur, animo masyarakat untuk membudidayakan jamur ini terbilang kurang. “Padahal untuk komoditi ekspor usaha ini sangat menjanjikan,” katanya.
Berbeda dengan jamur merang yang perlu ruangan tertutup dan hangat serta kedap udara, jamur tiram tidak memerlukan suhu tertentu atau ruang kedap udara. “Pada suhu biasa, jamur tiram bisa tumbuh dengan baik,” lanjutnya. Jamur tiram yang umum dikembangkan untuk budidaya biasanya berwarna putih, sementara warna coklat dan merah muda tidak. Menyoal rasa dari jamur tersebut, ungkap Parman, tergantung medianya. Sementara itu, untuk menghasilkan jamur sesuai warnanya tergantung pada warna asal bibit yang ditanam.-niek
Cermati Ciri-ciri Jamur Beracun
SECARA umum, jamur termasuk dalam jenis sayuran yang mengandung sedikit sekali protein dan hidrat arang, seperti halnya kangkung, ketimun, kool, kembang kool, tauge, sawi. “Karena kandungan kalorinya rendah, jamur boleh dimakan sekehendak atau bebas tanpa memperhitungkan banyaknya,” kata Ni Nyoman Widarmini, S.K.M. Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum, Mataram.
“Tentunya, jamur yang boleh dimakan atau tidak beracun,” ungkap Ir. Parman, Ph.D. Menurutnya, jamur tiram, yang berkembang dibudidayakan hingga saat ini adalah jamur tiram putih, coklat dan merah muda. Jamur ini, tumbuh di kayu yang mengalami pelapukan atau yang sudah mati, tumbuh pula di ilalang, sampah tebu dan sampah sagu.
Jamur tersebut tidak beracun dan boleh dimakan. Jamur yang tergolong beracun dan tidak dapat dikonsumsi, lanjutnya, jika jamur tiram misalnya, tumbuh di kayu yang masih hidup, tumbuh di bangkai, kotoran ayam atau binatang ternak. “Jika termakan, jamur jenis ini akan menyebabkan keracunan dan dalam konsentrasi racun tinggi dan bisa menyebabkan kematian,” ujarnya.
Ciri-ciri jamur beracun antara lain, umumnya tangkai payungnya bergelang atau terdapat lingkaran menyerupai cincin. Tapi, katanya, tidak semua yang bergelang merupakan jamur beracun. Selain itu, aroma jamur akan terasa berbau sangat tajam, jika dipotong terdapat cairan kekuning-kuningan dan berlendir. “Jika terdapat tanda-tanda tersebut, sebaiknya jamur ini jangan dikonsumsi,” saran Parman. Jamur ini biasanya tumbuh liar, sementara jamur yang sengaja dibudidayakan untuk dikonsumsi tentunya jamur yang tidak beracun, jadi tidak perlu khawatir membeli jamur apalagi yang sudah dalam kemasan.
Selain dikonsumsi dalam keadaan segar, jamur juga kerap dikonsumsi setelah mengalami pengeringan untuk pengawetan. Menurut Nyoman, antara jamur segar dan jamur kering terdapat perbedaan kalori yang dikandungnya. Jamur segar dalam 100 gram di dalamnya terdapat 15 kalori, protein 3,8 gram, lemak 0,6 gr, karbohidrat 0,9 gr, kalsium 3 mg, zat besi 1,7 mg, vitamin B 0,1 mg dan vitamin C 5 mg.
Sedangkan pada 100 gram jamur kering terdapat 128 kalori, protein 16 gram, lemak 0,9 gr, karbohidrat 64,6 mg, kalsium 51 mg, zat besi 6,7 mg, vitamin B 0,1 mg dan tidak mengandung vitamin C. “Jamur segar maupun jamur kering keduanya tidak mengandung vitamin A,” ujar Nyoman yang sudah 15 tahun bekerja di Instalasi Gizi ini. – niek
Belum Mampu Memenuhi Permintaan
BUDIDAYA jamur tiram dengan memanfaatkan limbah gergajian kayu yang dilakukan Mahrup, bisa dijadikan alternatif usaha yang mempunyai prospek sangat baik. Selain memakai bahan yang mudah dan murah, Mahrup juga membuat sendiri bibit induk dan bibit sebar jamur tiram ini, sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bibit.
Dalam waktu dua setengah bulan bibit tersebut sudah dapat dipakai, lebih cepat ketimbang proses yang selama ini dikenal yang memakan waktu sekitar empat bulan. Membuat bibit induk dan bibit sebar jamur tiram dilakukan dengan menyediakan media antara lain dedak halus dan tepung jagung yang dicampur dan ditambahkan air lalu dibuat adonan atau pasta (perbandingan 2:1). Media tanam dipres dengan alat pres yang direkayasa sendiri.
Proses perawatan hingga panen dalam budidaya jamur tiram ini juga cenderung gampang. Setelah polybag-polybag dingin, bibit jamur tiram dimasukkan satu sendok di bagian atasnya dan disimpan dalam ruang inkubasi. Jumlah bibit yang dimasukkan tidak akan berpengaruh pada berat jamur yang dihasilkan melainkan proses keluarnya jamur bisa lebih cepat, kata Mahrup. Lama kelamaan, polybag-polybag tersebut nantinya akan kelihatan memutih di seluruh permukaannya. “Jika sudah putih semua, polybag tersebut dapat dipindahkan ke ruang produksi,” ujar Mahrup.
Dalam ruang produksi, perawatan sederhana dimulai dengan membersihkan ruangan tiap pagi serta menyemprot polybag dengan air untuk tetap menjaga kelembaban ruangan serta merangsang tumbuhnya jamur tiram. Agar proses tumbuhnya jamur cepat, maka kapas penutup mulut polybag dibuka beberapa sebelum jamur keluar. Dalam waktu 15 hari dalam ruang produksi, jamur akan terlihat bermunculan, keluar dari mulut-mulut polybag. Tidak lama setelah itu, selang tiga hari kemudian jamur tiram pun mekar dan panen pertama pun bisa dimulai.
Selain menjual jamur segar, Mahrup juga menyediakan polybag-polybag berisi jamur tiram berumur sehari untuk dijual. “Artinya, kami menjual jamur yang sudah keluar dan kemungkinan sudah tidak lagi terkontaminasi,” katanya. Untuk pemasaran polybag jamur siap panen ini, Mahrup memakai sistem mitra, mereka yang sengaja membeli polybag-polybag jamur siap panen tersebut. Sampai saat ini, ia memiliki setidaknya enam mitra yang rutin mengambil masing-masing 200 polybag tiap bulannya. Di samping itu, pemasaran dilakukan di pasar-pasar tradisional sekitar Mataram.
Permintaan akan jamur siap panen dalam polybag tersebut, menurutnya, sangat tinggi, hanya saja ia belum mampu menyediakannya. Tahun 2005 ini ia telah membuat bibit lebih banyak dari biasanya, serta sedang melakukan proses percobaan pada kemungkinan bisa menambah berat jamur tiram saat dipanen setidaknya dua ons. Di rumahnya, tempat budidaya jamur tiram sampai saat ini, Mahrup telah banyak memberikan pelatihan-pelatihan pada mahasiswa tentang budidaya jamur tiram juga sebagai tempat PKL, sumber bahan penelitian dan konsultasi teknologi serta menjadi tempat tujuan agrowisata yang sering dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di NTB. –niek

http://www.cybertokoh.com/news/jamur.htm

Senin, 26 September 2011

Kisah keberhasilan Budidaya Lele di Kolam Terpal


Kolam Terpal Lele Sangkuriang

KOMPAS.com - Memasuki Kampung Cibeureum RT 08 RW 08, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, terlihat berjajar sekitar 100 kolam terpal warna oranye tempat pembenihan ikan lele sangkuriang. Kampung yang dikenal sebagai sentra perajin sandal ini, kini menjadi sentra usaha pembenihan ikan lele sangkuriang. Ini berkat ketekunan Ade Mulyadi (32), anak kedua dari enam bersaudara pasangan Muchtar (59) dan Rohani (56), sejak dua tahun yang lalu.

Keberhasilan Ade mengembangkan usahanya seperti saat ini tentu tak lepas dari mental bajanya yang pantang menyerah. Meskipun kaki kanannya cacat karena polio sejak usia 3 tahun, dia berhasil mengembangkan usaha pembenihan ikan lele sangkuriang, lele biakan baru yang kini semakin populer, terutama di Bogor.

Pengembangan usaha baru, yakni pembenihan ikan lele oleh pemuda itu, boleh disebut sebagai pelopor usaha pembenihan ikan di sentra perajin sandal Cibeureum. Usahanya bukan main-main. Ade bersama 4 pekerjanya tiap hari mengawasi, merawat sekitar 100 kolam pembenihan, dan menabur pakan untuk benih ikan secara tepat waktu dan tepat takarannya. Kolam ikan itu tampak unik karena dibuat khusus dengan menggunakan terpal warna oranye yang biasa digunakan untuk tenda.

Menurut Ade, usaha pembenihan ikan lele sangkuriang ini diawali dengan kegagalan dalam mengembangkan usaha pembenihan ikan lele dumbo yang dimodali ayahnya. Saat itu, lebih dari Rp 75 juta uang yang dikeluarkan ayahnya untuk modal usaha pembenihan ikan lele dumbo amblas.

”Tak pernah dijual, benih ikan itu mati diduga terserang penyakit,” kata Muchtar, ayah Ade. Sebelum bergabung dengan anaknya mengusahakan pembenihan lele sangkuriang, Muchtar adalah pedagang di pasar dan perajin sandal.

Belajar

Suatu hari, Muchtar yang beralih profesi menjadi pembenih ikan lele ini memperoleh keterangan tentang ”pendekar lele sangkuriang” Nasrudin, di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Maka, dia pun mendatangi Nasrudin untuk mencari tahu atau ”berguru” ilmu perlelean.

Namun, Muchtar tidak lantas berguru secara langsung. Setelah pertemuan dengan Nasrudin dan mendapat gambaran mengenai usaha itu, Muchtar kemudian mengutus Ade untuk mengikuti pelatihan kepada Nasrudin. Setelah itu, Muchtar menyusul bersama dua anaknya yang lain, Wawan dan Trimulyana, untuk menimba ilmu mengenai pembenihan lele.

Ternyata, untuk menimba ilmu tentang lele tidak perlu waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, apalagi bertahun-tahun. Ade mengikuti pelatihan hanya selama 3 hari di pusat pelatihan lele Nasrudin di Kampung Sukabirus. Dia sudah memperoleh ”jurus-jurus” jitu cara memelihara, memberikan pakan, dan mengatasi penyakit ikan secara tepat.

Tanpa menunggu waktu lagi, bekal pengetahuan itu langsung diterapkan di lapangan. Kolam-kolam pun dibuat tidak dengan menggali tanah, sebagaimana layaknya kolam ikan yang kita kenal selama ini. Mereka menggunakan terpal untuk membuat ”kolam-kolam” itu, dan kemudian diisi benih ikan lele sangkuriang. Rupanya tanda-tanda keberhasilan usaha lele itu mulai tampak.

”Berangsur-angsur usaha kami itu, berhasil,” kata Ade, akhir Maret lalu. Kematian benih lele seperti yang terjadi saat mengembangkan lele dumbo bisa mereka atasi. Perlakuan khusus bisa menekan angka kematian benih. Saat ini, usaha mereka sudah jauh berkembang. Siang itu, misalnya, Ade baru saja melayani pembeli benih lele sangkuriang ukuran 4-6 cm sebanyak 4.000 ekor.

Kewalahan

Diawali dari 10 kolam terpal ukuran 2 x 4 meter untuk pembenihan, kini Ade yang mengembangkan usaha bersama ayah dan adiknya memiliki sekitar 100 kolam pembenihan ikan lele sangkuriang. Muchtar sendiri juga memiliki sekitar 10 kolam pembesaran ukuran 10 x 10 meter.

Satu paket induk lele sangkuriang terdiri dari 10 betina dan 5 jantan. Ade membeli induk lele pada Nasrudin seharga Rp 800.000 per paket. Sejak menetas sampai dipanen, usia benih ikan lele sangkuriang ukuran 4-6 cm butuh waktu sekitar 50 hari. Setiap ekor induk lele sangkuriang bisa menghasilkan 70.000–100.000 ekor benih.

”Saat ini, setiap bulan kami baru bisa menjual 300.000 benih dengan harga Rp 150 per ekor,” kata Ade. Pesanan benih lele memang terus mengalir. Namun, tidak semua pesanan itu mampu dipenuhi. Ade mencontohkan, adanya permintaan benih sebanyak 1 juta ekor setiap bulan dari pembeli warga Tangerang, Banten, tetapi permintaan itu tidak sanggup mereka penuhi.

”Untuk melayani peternak ikan lele sangkuriang di daerah Kabupaten/Kota Bogor dan sekitarnya saja, kami masih kewalahan,” kata Ade. Melihat kondisi seperti itu, Ade mencari jalan keluar dengan menyiapkan 10 orang binaan sebagai pembenih ikan lele sangkuriang.

Sementara Muchtar yang memiliki 10 kolam pembesaran mengisi kolamnya dengan 10.000 ekor benih ukur 4–6 cm. Dari 10.000 benih ini, setelah 45 hari dapat dipanen 1 ton ikan lele ukuran 6–7 ekor per kg. Harga jualnya saat ini Rp 10.500 per kg. ”Dari panen 1 ton ikan itu, dipotong pakan dan biaya pemeliharaan, masih ada keuntungan sekitar Rp 3 juta,” kata Muchtar.

Ade dan ayahnya, sebagai keluarga pelopor usaha pembenihan ikan lele di sentra Perajin Sandal Cibeureum ini, sekarang sering menerima kunjungan tamu yang ingin belajar budidaya ikan lele sangkuriang, baik untuk pembenihan maupun pembesaran. ”Kami dengan senang hati menjelaskan bagaimana caranya menjadi pembudidaya ikan lele sangkuriang,” kata Ade.

Dia mengatakan, pihaknya memang berkonsentrasi di bidang pembenihan untuk memasok mereka yang berusaha di bidang pembesaran lele sangkuriang. ”Lebih menguntungkan jadi pembenih daripada pembesar ikan,” kata Ade, seraya menambahkan bahwa kerugian puluhan juta rupiah yang dideritanya dua tahun yang lalu berangsur-angsur dapat ditutupi dari keuntungan penjualan benih ikan.

(FX Puniman, Wartawan Tinggal di Bogor)

Kamis, 22 September 2011

Kawasan Wisata Wilayah Dieng (Candi Dieng)


Kawasan Wisata Candi Dieng

PENDAHULUAN
Candi Dieng merupakan sebuah kompleks candi yang bersifat agama Siwa, terletak di tanah datar tinggi Dieng (Dihyang) , dengan ketinggian sekitar 2000 meter di atas permukaan laut, berukuran 1800 meter panjang dan 800 meter lebar. Di sebelah utara terletak gunung Prahu dan dari arah gunung ini mengalir sungai Tulis ke arah selatan, masuk ke dataran tinggi Dieng dan dahulunya membentuk semacam danau dikenal dengan nama Bale Kambang. Agar air tidak terlalu penuh terdapat saluran berupa pipa yang disebut saluran Aswatama. Menurut laporan, pipa air ini sebagian ditemukan di dekat candi Arjuna.


Candi-candi di kompleks Dieng sekarang berjumlah sekitar delapan buah candi kemungkinan berasal dari abad VIII-IX. Sebuah prasasti ditemukan di dalam kompleks memiliki angka tahun 713 Saka sama dengan 809 Masehi, namun terdapat kemungkinan candi-candi tersebut ada yang lebih tua, dari sekitar pertengahan abad VIII. Candi-candi di Dieng ini diberi nama wayang, yaitu candi Arjuna, candi Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Bima, Dwarawati, Gatotkaca. Melihat nama-namanya jelas bukan nama tokoh Mahabharata, melainkan tokoh wayang termasuk punakawan Semar. Hal ini berarti nama-nama tersebut bukan nama asli candi-candi Dieng.
Kompleks Dieng ini diperkirakan candi Saiwa tertua dari masa Klasik Tua, namun sebelum membicarakan candi tersebut, akan disinggung sepintas lalu tentang kontak budaya awal Indonesia-India yang berdampak masuknya agama-agama yang berasal dari India ke Indonesia.

PERKEMBANGAN AWAL AGAMA-AGAMA DI NUSANTARA
Hubungan dagang antara India dan Asia Tenggara termasuk Indonesia (Nusantara) telah lama terjadi. Hubungan dagang ini bersamaan waktunya dengan perkembangan agama Buddha yang mewajibkan para pendetanya (bhiksu-bhiksunya) untuk menyebarkan agama tersebut. Salah satu usaha meraka adalah ikut kapal dagang India, dan dengan penuh ketekunan menyebarkan agamanya. Kehadiran para bhiksu di kapal-kapal ini antara lain dibuktikan oleh penemuan arca-arca Buddha di tempat-tempat yang dekat dengan jalur perdagangan, , misalnya arca Buddha di Bukit Seguntang, Palembang, di Sempaga di pantai barat Sulawesi, di Kota Bangun (Kutai). Arca-arca tersebut berasal dari abad II-III Masehi.
Berbeda dengan para bhiksu agama Buddha, pendeta-pendeta non-Buddha tidak ikut kapal dagang menyebarkan agama mereka, namun mereka khusus diundang oleh para raja di Asia Tenggara, termasuk Indonesia (Nusantara).
Pendeta-pendeta yang pertama diundang ke Indonesia bukan pendeta dari agama Hindu-Siwa, melainkan dari agama Veda (Brahmana) yang berkembang di India antara tahun 1500 sebelum Masehi, hingga sekitar abad I Masehi.

Agama Veda dibawa masuk ke India oleh bangsa Arya antara tahun 2000-1500 sebelum Masehi, dan kepercayaannya dapat kita ketahui dari kitab Veda yang berjumlah empat yaitu Rgveda, Yajur Veda, Sama Veda dan Atharva Veda. Dewa-dewinya berjumlah 33, dan merupakan wujud atau personifikasi kekuatan alam sehingga bentuk kepercayaannya disebut “naturalistic polytheism”, tetapi ada yang menyebut “kat henotheism” (kat:berganti-ganti, heno:satu) maksudnya dewa yang dianggap tertinggi berganti-ganti sesuai kepentingan si pemuja. Ritual masa Veda adalah bersaji (offerings) yang dilakukan tidak di dalam kuil, tetapi di sebuah lapangan terbuka yang disebut Vedi atau Ksetra. Di atas lapangan didirikan tungku yang disebut agni atau kunda, minimal berjumlah empat untuk membakar benda-benda yang disajikan kepada dewa. Pusat berkembangnya agama Veda di India adalah di sekitar sungai Sindhu (Indus), India Barat. Agama Veda ini digantikan oleh agama Hindu yang memuja tiga dewa (Trimurti: Siva, Visnu, Brahma) pada sekitar abad I Masehi, kitab suci mereka tetap Veda ditambah oleh kitab-kitab Purana dan Upa Purana. Berbeda dengan agama Veda, pusat perkembangan agama Hindu di sekitar sungai Gangga dan Yamuna, India Timur. Agama Hindu yang mempunyai ajaran sva-dharma (kewajiban sesuai dengan jati/kasta).
Dalam perkembangannya, muncul kelompok-kelompok pemuja Siwa sebagai dewa tertinggi atau Visnu sebagai dewa tertinggi dalam agama Vaisnava, kemudian pada abad VI muncul agama Sakta pemuja sakti atau energi dewa, khususnya dewa Siwa.
Di Nusantara agama Veda menjadi agama awal yang berasal dari India, bukti tertua terdapat di Kutai, Muarakaman, Tarumanagara dan Kota Kapur di pulau Bangka. Baru pada abad VII Masehi agama Hindu pemuja Trimurti berkembang di Jawa Tengah, bukti pertama diketahui pada prasasti Tuk Mas, di Dakawu, Magelang. Selanjutnya menurut prasasti Canggal tahun 732 Masehi yang dikeluarkan oleh raja Sanjaya, agama Siwa mulai berkembang di pulau Jawa. Candi-candi Saiwa bermunculan di Jawa, di antaranya candi-candi di Dieng.

LOKASI DAN NAMA CANDI
Candi-candi Dieng dan beberapa candi lainnya di Jawa, yang tertua setelah Dieng adalah candi Gedong Songo di Ungaran, candi Gunung Wukir, dan lain sebagainya didirikan di lereng sebuah gunung/bukit. Kalau pun di dirikan di dataran rendah, maka tanah halaman ditinggikan, sebagai contoh dapat dilihat pada halaman candi Prambanan. Candi Prambanan mempunyai tiga halaman, halaman pertama merupakan halaman pusat, kemudian halaman kedua dan halaman ketiga. Permukaan tanah halaman I (pusat) lebih tinggi dari permukaan tanah halaman II dan III. Keletakan bangunan suci di lereng gunung, di puncak sebuah bukit dan di pinggir sungai atau danau telah dibicarakan di dalam buku Vastusastra, yaitu buku pedoman bagi para seniman (silpin) untuk membuat suatu bangunan (vastu). Menurut Vastusastra, untuk membuat tempat para dewa sebaiknya di gunung, dengan air yang mengalir. Namun apabila dilihat dari sudut arti simbolik, gunung adalah mikrokosmos, tiruan dari Mahameru tempat tinggal para dewa, Siwa dan Keluarganya tinggal di puncak gunung Kailasa di Mahameru tersebut.

Mengapa bangunan suci di Jawa disebut candi ?
Berbagai pendapat muncul tentang arti nama itu, namun disini dapat saya katakan bahwa penamaan tempat suci umumnya dan bangunan suci pada khususnya sebagai candi, hanya terdapat di Indonesia. Di India sesuai dengan sebutan dalam Vastusastra, bangunan suci tidak disebut candi, melainkan Prasada, Vesman, Koil, Devagrha, Devalaya, Devakula, Mandiram, Bhavanam, Sthana dan lain sebagainya

CANDI DIENG, KRONOLOGI DAN DESKRIPSI
Pembicaraan tentang candi-candi di Dieng telah dibicarakan oleh N.J.Krom di dalam bukunya yang berjudul Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst (1923) , 3 jilid, E.B.Vogler dalam De Monsterkop in de Hindoe-Javaansche Bouwkunst (1949), yang membicarakan kronologi candi-candi Jawa Tengah berdasarkan ragam hias Kala-makaranya, kemudian Soetjipto Wirjosuparto membahas candi Dieng dalam karangannya berjudul Sedjarah Bangunan Kuna Dieng (1957) .
Menurut Soetjipto Wirjosuparto,Kompleks Dieng ini pertama kali dikunjungi tahun 1814 oleh H.C.Cornelius, dan menurut laporannya, dataran Dieng masih berupa danau dan di antara candi-candinya ada yang terendam air. Baru tahun 1856 J.van Kinsbergen membuat gambar candi-candi Dieng ini, air dialirkan sehingga dataran menjadi kering.
E.B.Vogler membagi secara kronologis candi-candi di wilayah Jawa Tengah, berdasarkan ciri-ciri ragam hias Kala-makara. Ia membuat pembabakan candi-candi sebagai berikut:
1. Seni bangunan Jawa Tengah Kuna, namun telah hilang karena terbuat daribenda-benda yang mudah rusak
2. Seni bangunan masa Sanjaya (pertengahan abad VII-pertengahan abad VIII),Walaupun tidak ada bekas2nya , Vogler menentukan bahwa bangunan masa Sanjaya ini berakarkan seni bangunan Pallwa India Selatan. Seni bangunan inijuga disebut bangunan Dieng Kuna.
3. Seni bangunan Sailendra (pertengahan abad VIII-pertengahan abad IX), merupakan perpaduan unsur kesenian Dieng Kuna dan India Utara. Seni bangunan Sailendra dapat dibagi menjadi dua aliran, yaitu:
o Seni bangunan Dieng Baru, yang tetap meneruskan seni bangunan Dieng Kuna. Contoh adalah bangunan2 di Dieng
o Seni bangunan Sailendra-Jawa yang berakarkan seni bangunan India Utara, contoh adalah candi2 di daerah Kedu Selatan dan sekitar Prambanan, yaitu candi Kalasan, Sari, Lumbung, Sewu, Borobudur, Mendut, Pawon
4. Seni bangunan Kesatuan, (pertengan abad IX-kira-kira tahun 927). Disebut “kesatuan”karena Sanjayawamsa telah bersatu dengan Sailendrawamsa melalui perkawinan. Terdapat percampuran dengan gaya seni bangunan Jawa Timur dan gaya seni bangunan dari luar Jawa (?). Termasuk kelompok ini adalah candi Puntadewa di Dieng, candi2 Gedongsanga, Plaosan, Sojiwan dan Lara Jonggrang.
5. Seni bangunan Jawa Tengah akhir ((500-928), seni bangunan yang meniru candi Candi Sembadra, candi Srikandi, candi Gunung Wukir.
Pembabakan candi-candi oleh Vogler ini, kemudian diikuti oleh Soetjipto Wirjosuparto dalam pengelompokan candi-candi Dieng, dalam bukunya tersebut di atas.
Seperti telah dikemukakan terdahulu, candi-candi di Dieng sekarang ada delapan buah, walaupun terdapat kemungkinan dahulunya jumlah candi lebih dari delapan. Empat buah candi berjejer di sebelah utara, yaitu candi Arjuna, candi Srikandi, cabdi Puntadewa dan candi Sembodro, yang menghadap ke arah barat. Berhadapan dengan candi Arjuna terdapat candi Semar, yang berfungsi sebagai candi Perwara, menghadap ke timur. Sementara itu ada pendapat bahwa candi Perwara pun terdapat di depan candi-candi Srikandi, Puntadewa dan Sembodro, namun sekarang sudah tidak tersisa. Kelima candi ini merupakan satu kelompok, karena terdapat sisa-sisa pagar yang mengelilingi.


Gambar 1. Lima Buah Candi Di Dieng
Di samping itu, di sebelah barat daya Bale Kambang, di kaki bukit Panggonan terdapat candi Gatotkaca, candi Dwarawati di sebelah utara dekat bukit Prahu, dan di ujung selatan terdapat candi Bima.
Secara sepintas, candi-candi tersebut mirip dengan kuil-kuil di India, namun kalau kita perhatikan, sangat besar perbedaannya. Ciri-ciri umum candi-candi di Dieng, berdenah bujur sangkar, mempunyai tiga bagian candi, yaitu kaki-tubuh-atap. Perkecualian terdapat pada candi Semar, karena berdenah empat persegi panjang, dan atap tidak menjulang seperti candi-candi lainnya, melainkan berbentuk padma (sisi genta). Demikian pula di antara candi-candi tersebut, candi Bima mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan ketujuh candi lainnya, untuk lebih jelasnya akan di deskripsikan tiga buah candi yaitu candi Arjuna, candi Semar dan candi Bima.
Candi Arjuna. Candi Arjuna dimasukkan ke dalam seni bangunan Dieng Baru, berdenah bujur sangkar berukuran 6 meter x 6 meter, dengan pintu menghadap ke barat. Candi didirikan di atas fondasi berupa tanah lembut semacam pasir keputihan. Fondasi disini maksudnya pemadatan tanah di bawah candi, untuk memperkuat tanah sebelum didirikan candi.Seperti lazimnya candi-candi Klasik Tua, kaki candi dihias dengan perbingkaian, demikian pula bagian bawah tubuh candi. Namun candi Arjuna dan candi-candi Dieng lainnya tidak memiliki bingkai bulat (kumuda), hanya bingkai rata dan bingkai padma (sisi genta). Dinding tubuh candi Arjuna dihias oleh 3 relung pada 3 sisinya yang sekarang telah kosong tidak ada arcanya. Bagian atas relung masing-masing relung dihias dengan ragam hias kepala kala tanpa dagu, dan dihubungkan dengan sepasang makara oleh bingkai relung. Pintu candi di sebelah barat, dengan hiasan ragam hias kepala kala pula, dan dihubungkan oleh bingkai pintu dan pipi tangga ke sepasang makara yang di hias oleh burung kakaktua di mulutnya yang menganga.
Atap candi terdiri dari tiga lapis (bhumi), ukurannya makin ke atas makin kecil dan di akhiri oleh puncak yang mungkin berbentuk buah keben (ratna). Kemungkinan ini di ajukan setelah melihat hiasan pada sudut2 lapisan atap berbentuk replika candi. Kepastian bentuk tidak dapat diajukan, karena atap telah rusak. Puncak candi bukan stupika (dagoba), karena candi Arjuna dan candi Dieng secara keseluruhan bersifat agama Siwa, dan bukan bersifat agama Buddha. Bentuk atap candi Arjuna mirip dengan atap candi gaya India Selatan (gaya Dravida).
Pada tahun 1924 seorang arkeolog Belanda pernah meneliti candi Arjuna, dan menurut pendapatnya, ukuran dan bagian-bagian candi Arjuna jelas mengikuti aturan Vastusastra. Namun bagaimana gaya candi-candi Dieng lainnya belum ada laporan, kecuali candi Bima yang beratap gaya India Utara (gaya Arya).
Ragam hias sangat sederhana, atap candi dipenuhi dengan ragam hias antefiks (simbar), dan hiasan Kala-makara pada pintu candi dan ketiga relung pada badan candi. Bingkai pintu ini pada bagian bawah dihubungkan dengan pipi tangga yang melengkung pada kiri kanan tangga masuk.
Ruangan tengah (garbhagrha) telah kosong, dahulunya mungkin diisi arca Siwa yang mungkin sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Yoni lapik arcanya sekarang masih ada di dalam ruangan.
Candi Semar. Di hadapan candi Arjuna berdiri sebuah candi yang berdenah empat persegi panjang berukuran 7x3.50 meter, dengan pintu menghadap ke timur. Seperti candi-candi lainnya, candi Semar memiliki kaki-tubuh dan atap. Alas kaki candi dan alas tubuh candi dihias dengan perbingkaian berupa bingkai padma (sisi genta) dan bingkai rata. Pintu dihias dengan kala-makara, tubuh candi diberi bidang penghias yang kosong. Atap candi bentuknya sangat unik, karena tidak berlapis seperti halnya candi Arjuna dan candi-candi lainnya, namun hanya satu lapis melengkung ke atas, bentuknya seperti padma yang besar. Puncak atap berbentu apa, sudah tidak diketahui karena telah hilang.
Candi Semar ini berfungsi sebagai candi Perwara, atau candi pengiring. Apa yang diletakkan di ruangan candi tidak jelas. Apabila kita bandingkan dengan kompleks kuil di India, bangunan yang berhadapan dengan bangunan utama, biasanya dipakai untuk menempatkan arca Nandi, vahana (kendaraan) Siwa.
Candi Perwara semacam candi Semar, selain di Dieng juga ditemukan pada candi-candi kuna tua masa Klasik tua, misalnya pada candi Gedongsanga.


Gambar 2. Salah Satu Kelompok Candi Gedong Songo
Pada candi-candi yang tergolong tua candi Perwara hanya satu. Namun pada candi-candi yang lebih muda jumlah candi Perwara akan bertambah, misalnya yang terdapat pada candi Sambisari ini, jumlah candi Perwara menjadi tiga buah.

Gambar 3. Candi Sambisari
Dari sisa2 candi Dieng, menurut J. Dumarcay, dahulu candi Perwara, mungkin mirip candi Semar, juga terdapat di depan candi-candi Sembadra, Puntadewa dan candi Srikandi.
Candi Bima. Di sebelah selatan dataran Dieng, dekat bukit Panggonan terletak candi Bima.


Gambar 4. Candi Bima
Candi menghadap ke timur, denah hampir bujur sangkar dengan ukuran 4..43 x 4.93 meter, dengan bangunan penampil di pintu masuk. Seperti candi-candi di Dieng lainnya, candi Bima mempunyai tiga bagian candi, Namun perbedaan yang menyolok, atap candi Bima mengikuti gaya atap India Utara (gaya Arya), lapisan-lapisan atap tidak terlihat, dan atap dihias dengan amalaka (semacam bola pipih), pada bagian atas menara sudutnya, mungkin pula puncak candi. Di samping hiasan amalaka, atap candi Bima di hias dengan sederetan relung palsu dengan arca-arca kepala tokoh yang seolah-olah melihat dari jendela. Relung-relung ini di India disebut ragam hias kudu atau gavaksa.
Candi Bima mempunyai ciri-ciri arsitektural yang sangat berbeda dengan candi-candi di Dieng lainnya. Candi Bima terpengaruh oleh ciri-ciri kuil India Utara, sedangkan candi yang 6 (tidak termasuk candi Semar) mengikuti gaya India Selatan. Namun kalau diamati dengan seksama, candi-candi Dieng memperlihatkan variasi ciri-ciri dalam hal struktur candi maupun ragam hiasnya. Hal ini berarti candi-candi dibuat oleh beberapa orang silpin yang bertindak sebagai kepala arsitek candi (sthapati). Kemungkinan besar para sthapati ini pernah belajar agama di India. Dari bukti2 tertulis diketahui bahwa orang-orang Indonesia pernah ada yang belajar agama di India. Mereka dibuatkan asrama di Nalanda (Bengal) dan di Nagapatnam (India Selatan) untuk tinggal selama disana.
Agama, baik agama Hindu maupun Buddha, sangat erat hubungannya dengan kesenian khususnya seni bangunan, dan seni arca. Di India terdapat beberapa pusat kesenian, misalnya di Mathura, India Utara, Nalanda pusat agama Buddha di daerah Bengal, Amarawati India Selatan dan sebagainya. Para sthapati tersebut selain belajar agama, juga mempelajari kitab-kitab Vastu (Vastusastra), kemudian pergi mengunjungi pusat-pusat kesenian di India. Kemudian mereka membuat replika bangunan suci sesuai dengan apa yang diuraikan dalam Vastusastra, dengan apa yang dilihat di pusat2 kesenian dan sudah tentu disesuaikan dengan dasar budayanya sebagai orang Jawa, maka dibuatlah replika candi untuk dibawa pulang dijadikan contoh membuat candi-candi di Jawa dan mungkin pula di tempat lain di Nusantara. Apabila mereka (para silpin yang kemudian menjadi sthapati) pulang hanya membawa replika contoh candi, maka dengan sendirinya bisa dimengerti mengapa hingga saat ini kita tidak pernah menemukan Vastusastra di Indonesia.

PENUTUP
Candi-candi tua yang ditemukan di Jawa kebanyakan bersifat agama Siwa, antara lain candi Dieng, Gedongsanga, Gunungwukir, Pringapus dan lain sebagainya.
Telah dikemukakan terdahulu, candi-candi tersebut secara sepintas memang mirip dengan kuil2 India, namun kalau diperhatikan betul akan sangat berbeda, baik dari segi arsitektural maupun penempatan arca-arcanya. Ada yang berpendapat candi Bima sangat mirip dengan kuil Bhitargaon yang ada di Cawnpore, Utar Pradesh. Namun persamaan hanya sebatas pada ragam hias motif kudu yang juga terdapat pada dinding kuil Bhitargaon. Ciri-ciri lain tidak bisa dibandingkan karena sangat berbeda,bukankah candi Bima yang membuat adalah seniman Indonesia? Walaupun para seniman Nusantara tersebut mengenal peraturan dalam Vastusastra dan telah mengunjungi pusat-pusat kesenian di India, namun semua pengetahuan tersebut diramu, diolah, dengan unsur budaya setempat.

http://jagadkejawen.com