Senin, 07 November 2011

Tips Cara Memelihara Kelinci

Jangan membeli kelinci anakan di bawah umur 2 bulan. Itu akan mengakibatkan kelinci mudah mati karena kekebalan tubuhnya rentan.

Kelinci di petshop atau pinggir jalan sering dikatakan umur 1 bulan, bahkan ada yang bilang 2 bulan. Kita tidak tahu betul akan hal itu sebab kita tidak menerima kalender kelahiran. Para pedagang sering berbohong dengan mengatakan kelinci umur 1 bulan, padahal kecil-kecil, biasanya baru umur 20-25 hari. Kalau 2 bulan saja tidak diperbolehkan dibeli, maka 1 bulan jelas lebih gawat.

Kelinci di bawah umur 3 bulan sangat rawan dibawa pergi jauh melewati 100 km perjalanan.

Jangan percaya kelinci tidak boleh dikasih air minum. Semua makhluk hidup butuh air minum, terlebih kelinci anakan yang baru saja dipisahkan dari induknya.

Jangan percaya bahwa kelinci kebutuhan air minumnya cukup dari rumput. Itu kacau, sebab rumput layu kadar airnya sangat minim sementara kebutuhan untuk melancarkan pencernaan dengan air dan kebutuhan kencing sangat banyak. Air putih matang atau mentah sangat dibutuhkan kelinci.

Kangkung bukan pakan terbaik. Setiap pohon berjenis berbambu berpotensi menyimpan gas. Jangan terkecoh pada kesukaan kelinci. Kelinci suka kangkung karena lapar dan tidak ada pakan lain. Kalau sudah lapar apapun jadi.

Kangkung dan kubis menyimpan potensi gas yang tinggi dan mengakibatkan air kencing bau (amoniak).

Jangan percaya bahwa musim hujan banyak mengakibatkan kematian. Bukan soal musim hujannya, tetapi kelembabab dan kebersihan yang jadi masalah. Kalau bisa ditangani secara baik dijamin tidak akan banyak kematian.

Pakan kelinci adalah rumput. Anak kelinci di bawah 3 bulan lebih cocok rumput ketimbang pelet. Pemberian pelet (atau pakan padat lain) seperti ampas tahu atau bekatul boleh tetapi hanya sedikit. Baru setelah umur 2,5 bulan boleh lebih banyak (sekitar 50 gram) sedang kelinci di atas 3 bulan bisa 100gram per hari. Kelinci anak lebih cocok rumput karena sistem pencernaannya masih labil. Kalau banyak pelet jadi berat, terlebih jika tidak diberi air minum.

Penyebab kudis/budugen hanya satu sebab, yakni karena kandang jorok. Kuku kelinci yang sering menginjak kotoran biasanya menularkan penyakit kudis itu ke telinga. Solusi kebersihan sebagai syarat mutlak. Kaki/kuku kelinci perlu dibersihkan dengan air hangat supaya kuman/kutu pada mati. Kalau perlu dipotong kukunya biar lebih aman.

Wortel (bersih) sangat baik bagi Kelinci Anakan maupun kelinci dewasa. Gizi wortel tinggi sehingga anakan kelinci pun sangat perlu memakan wortel. Hindari wortel kotor dan busuk sebab bisa jadi penyakit pencernaan.

Jangan percaya bahwa kelinci anakan bisa dibawa pergi jauh. Itu akan membuat celaka sebab kelinci anakan di bawah 2 bulan masih sangat rawan stres. Stres mengakibatkan pencernaan terganggu, terlebih jika kurang air minum dan kurang serat (rumput).

Jangan percaya air membuat kelinci mati. Itu teori bodoh. Bukan airnya yang membuat mati, melainkan karena penyakit. Penyakit kelinci yang ditimbulkan oleh bateri, protozoa atau kuman bisa muncul dari mana saja. Termasuk air. Pastikan air itu bersih. Kalau kena kotoran segera ganti yang bersih.

Jangan percaya setiap jenis kelinci yang dijual umum itu keturunan ras murni. Kita tidak tahu soal kawin silang. Pada umur 1 bulan kelinci bisa jadi nampak murni, tetapi pada dewasa kelak jenisnya jadi aneh-aneh. Biasanya sudah terjadi perkawinan silang. Kalau mau dapat bibit yang baik sesuai keinginan mesti melihat induknya langsung.

Jangan membawa kelinci di perjalanan dengan kardus sebab kardus menimbulkan panas dan sumpek. Banyak kejadian kelinci pada mati. Kalaupun hidup hanya beberapa hari selanjutnya mati karena pengaruh banyak hal, seperti stress dipisah dari induk, perjalanan jauh, dehidrasi (kekurangan air) atau stres karena kepadatan kelinci.

http://kelinci.wordpress.com

Contoh Surat Lamaran Junior Auditor


Sample, October 19, 2011

To :
Human Resources Department
KAP Abcde, Efghij, Klman & Rekan
Dear Sir / Madam,

Having heard information that your company seeks for an employees from www.jobsdb.com on September 29th, I am eager to seek the challenging career opportunity in a dynamic and growing company such as yours. I am Interested to apply for the position as Junior Auditor.

I am hold S-1 degree in Accountancy (Economic Faculty) from University Pakuan Bogor with GPA 3.68. I am able in English, highly motivated, hard working and fast learner. I usually work with PC anf familiar with accounting system too.

Given the opportunitiy, I believe I could make my best contribution to your company. I Enclose, please find my CV, a recent photograph. Thanks for your kind attention and consideration, I am looking forward to here from your soon.

Sincerely Yours




Applicant: ………………..

BUDIDAYA BELUT


SENTRA PERIKANAN

Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai pos penampungan.


MANFAAT

Manfaat dari budidaya belut adalah:
1) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
2) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3) Sebagai obat penambah darah.

PERSYARATAN LOKASI

1) Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
2) Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.
3) Suhu udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-31 derajat C.
4) Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut dewasa tidak memilih kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Penyiapan Sarana dan Peralatan

1) Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang
masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut ukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.
2) Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.
3) Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran 3-50 cm.
4) Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu diplester.
5) Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya.
6) Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan
ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik + air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah. Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.

Penyiapan Bibit

1) Menyiapkan Bibit
a. Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
b) Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.
c. Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan.
Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran 30 cm dan belut jantan berukuran 40 cm.
d. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu
pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa
diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.
2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.

Pemeliharaan Pembesaran

1) Pemupukan
Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organic utama.
2) Pemberian Pakan
Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.
3) Pemberian Vaksinasi
4) Pemeliharaan Kolam dan Tambak
Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.

HAMA DAN PENYAKIT

Hama
1) Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan belut.
2) Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air dan ikan gabus.
3) Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak banyak diserang hama.

Penyakit
Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

PANEN

Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :
1) Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.
2) Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).

Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja.

PASCAPANEN

Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar, penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas yang baik, sehingga mempunyai jaringan pemasaran yang luas.

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:

1) Biaya Produksi
a. Pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-
b. Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,- Rp. 225.000,-
c. Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp. 45.000,-
d. Lain-lain Rp. 30.000,-
Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,-
2) Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,- Rp. 750.000,-
3) Keuntungan Rp. 422.000,-
4) Parameter Kelayakan Usaha 2,28

Gambaran Peluang Agribisnis

Budidaya ikan belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Kesenian Khas Betawi (Gambang Kromong)

Gambang Kromong

Salah satu musik khas dari kesenian Betawi yang paling terkenal adalah Gambang Kromong, dimana dalam setiap kesempatan perihal Betawi, Gambang Kromong selalu menjadi tempat yang paling utama. Hampir setiap pemberitaan yang ditayangkan di televisi, Gambang Kromong selalu menjadi ilustrasi musiknya.
Kesenian musik ini merupakan perpaduan dari kesenian musik setempat dengan Cina. Hal ini dapat dilihat dari instrumen musik yang digunakan, seperti alat musik gesek dari Cina yang bernama Kongahyan, Tehyan dan Sukong. Sementara alat musik Betawi antara lain; gambang, kromong, kemor, kecrek, gendang kempul dan gong.

Kesenian Gambang Kromong berkembang pada abad 18, khususnya di sekitaran daerah Tangerang. Bermula dari sekelompok grup musik yang dimainkan oleh beberapa orang pekerja pribumi di perkebunan milik Nie Hu Kong yang berkolaborasi dengan dua orang wanita perantauan Cina yang baru tiba dengan membawa Tehyan dan Kongahyan.

Pada awalnya lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu Cina, pada istilah sekarang lagu-lagu klasik semacam ini disebut Phobin. Lagu Gambang Kromong muatan lokal yang masih kental unsur klasiknya bisa didengarkan lewat lagu Jali-Jali Bunga Siantan, Cente Manis, dan Renggong Buyut.

Pada tahun 70an Gambang Kromong sempat terdongkrak keberadaannya lewat sentuhan kreativitas "Panjak" Betawi legendaris "Si Macan Kemayoran", Almarhum H. Benyamin Syueb bin Ji'ung. Dengan sentuhan berbagai aliran musik yang ada, jadilah Gambang Kromong seperti yang kita dengar sekarang. Hampir di tiap hajatan atau "kriya'an" yang ada di tiap kampung Betawi, mencantumkan Gambang Kromong sebagai menu hidangan musik yanh paling utama.

Seniman Gambang Kromong yang dikenal selain H. Benyamin Syueb adalah Nirin Kumpul, H. Jayadi dan bapak Nya'at.

Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan musik ini menjadi "terengah-engah" antara hidup dan mati (dalam tabel yang dibuat Yahya AS termasuk dalam kondisi "sedang"). Musik ini hanya terdengar di antara bulan Juni saja, yaitu sewaktu hari ulang tahun Jakarta. padahal tanggal dan tahun kelahiran kota jakarta saja belum jelas pastinya. Itupun di tempat-tempat tertentu, seperti di Setu Babakan misalnya.

Diperlukan pembinaan dan pelestarian berkelanjutan seni musik Gambang Kromong ini, khususnya bagi generasi muda Betawi. Kepedulian generasi muda Betawi terhadap keseniannya (seni musik dan seni silat) hendaknya harus melebihi generasi muda di daerah lainnya, karena keberadaan etnis Betawi itu sendiri yang berada di ibu kota Jakarta sebagai etalase kebudayaan Indonesia.

Tabe'...Jali


BUAH ANGGUR

Teknik dan Tata Cara Budidaya Tanaman Anggur

Anggur merupakan tanaman buah berupa perdu merambat yang termasuk ke dalam keluarga Vitaceae. Buah ini biasanya digunakan untuk membuat jus anggur, jelly, minuman anggur, minyak biji anggur dan kismis, atau dimakan langsung. Buah ini juga dikenal karena mengandung banyak senyawa polifenol dan resveratol yang berperan aktif dalam berbagai metabolisme tubuh, serta mampu mencegah terbentuknya sel kanker dan berbagai penyakit lainnya. Aktivitas ini juga terkait dengan adanya senyawa metabolit sekunder di dalam buah anggur yang berperan sebagai senyawa antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas.

Syarat Tumbuh :
Ketinggian 25-300 dibawah permukaan laut.
Suhu 25-310 C.
Kelembaban udara 75-80%.
Intensitas penyinaran 50%-80%, 3-4 bulan kering.
Curah hujan 800 mm/tahun.
pH tanah 6-7.
Tipe tanah : liat dan liat berpasir (alluvial dan grumosol).

Pembibitan :
Bibit siap tanam umur 1,5 – 2bulan
Perakarannya 5-10 cm
Tumbuh sehat, bertunas dua.
Kebutuhan bibit jarak tanam 3×3 cm sebanyak 890 batang/ha, jarak tanam 5×4 cm sebanyak 500 batang/ha.
Sebulan sebelum ditanam, bibit anggur terpilih diadaptasikan disekitar lahan.

Budidaya :
Pangkas pembuahan dilakukan 2 tahap setahun yaitu bulan Maret – April dan Juli – Agustus dan dilakukan pada cabang-cabang tersier yang telah berumur 1 tahun
Cabang-cabang yang tumbuh subur dipangkas dan sisakan 4-10 mata tunas, sedang cabang yang kurang subur sisakan 1-3 mata tunas
Cabang/ranting sisa pemangkasan dibentangkan dan diatur merata di seluruh permukaan para-para, lalu diikat ke kanan dan kiri dengan tali.
Pelihara 3 malai bunga tiap tunas dan potong tunas baru yang tumbuh di atas bunga sampai terbentuk bakal buah
Jarangkan buah pada dompolan 50% – 60 %, yaitu waktu ukuran buah sebesar biji asam dengan mengambil butir-butir buah yang letaknya berhimpitan, bertangkai panjang, abnormal, rusak dengan gunting kecil yang steril.
Jika musim hujan, pasang atap plastik putih pada para-para dan bungkus buah dengan kantong plastik atau kertas semen

http://petanisukses.com/2011/10/03/budidaya-buah-anggur/

BUDIDAYA RAMBUTAN

RAMBUTAN
( Nephelium sp. )

1. SEJARAH SINGKAT

Rambutan (Nephelium sp.) merupakan tanaman buah hortikultural berupa pohondengan famili Sapindacaeae. Tanaman buah tropis ini dalam bahasa Inggrisnya disebut Hairy Fruit berasal dari Indonesia. Hingga saat ini telah menyebar luar di daerah yang beriklim tropis seperti Filipina dan negara-negara Amerika Latin dan ditemukan pula di daratan yang mempunyai iklim sub-tropis.
2. JENIS TANAMAN

Dari survey yang telah dilakukan terdapat 22 jenis rambutan baik yang berasal dari galur murni maupun hasil okulasi atau penggabungan dari dua jenis dengan galur
yang berbeda. Ciri-ciri yang membedakan setiap jenis rambutan dilihat dari sifat buah (dari daging buah, kandungan air, bentuk, warna kulit, panjang rambut). Dari
sejumlah jenis rambutan diatas hanya beberapa varietas rambutan yang digemari orang dan dibudidayakan dengan memilih nilai ekonomis relatif tinggi diantaranya:

1) Rambutan Rapiah buah tidak terlalu lebat tetapi mutu buahnya tinggi, kulit berwarna hijau-kuning-merah tidak merata dengan beramut agak jarang, daging buah manis dan agak kering, kenyal, ngelotok dan daging buahnya tebal, dengan
daya tahan dapat mencapai 6 hari setelah dipetik.

2) Rambutan Aceh Lebak bulus pohonnya tinggi dan lebat buahnya dengan hasil
rata-rata 160-170 ikat per pohon, kulit buah berwarna merah kuning, halus,rasanya segar manis-asam banyak air dan ngelotok daya simpan 4 hari setelah
dipetik, buah ini tahan dalam pengangkutan.

3) Rambutan Cimacan, kurang lebat buahnya dengan rata-rata hasil 90-170 ikat per
pohon, kulit berwarna merah kekuningan sampai merah tua, rambut kasar dan
agak jarang, rasa manis, sedikit berair tetapi kurang tahan dalam pengangkutan.

4) Rambutan Binjai yang merupakan salah satu rambutan yang terbaik di Indonesia
dengan buah cukup besar, dengan kulit berwarna merah darah sampai merah tua
rambut buah agak kasar dan jarang, rasanya manis dengan asam sedikit,
hasilbuah tidak selebat aceh lebak bulus tetapi daging buahnya ngelotok.

5) Rambutan Sinyonya, jenis rambutan ini lebat buahnya dan banyak disukai
terutama orang Tionghoa, dengan batang yang kuat cocok untuk diokulasi, warna
kulit buah merah tua sampai merah anggur, dengan rambut halus dan rapat,rasa
buah manisa sam, banyak berair, lembek dan tidak ngelotok.

3. MANFAAT TANAMAN

Tanaman buah rambutan sengaja dibudidayakan untuk dimanfaatkan buahnya yang
mempunyai gizi, zat tepung, sejenis gula yang mudah terlarut dalam air, zat protein
dan asam amino, zat lemak, zat enzim-enzim yang esensial dan nonesensial, vitamin dan zat mineral makro, mikro yang menyehatkan keluarga, tetapi ada pula
sementara masyarakat yang memanfaatkan sebagai pohon pelindung di
pekarangan, sebagai tanaman hias.

4. SENTRA PENANAMAN

Di Indonesia yang menjadi sentra penanaman rambutan adalah di Jawa khususnya
yang sangat besar produksi buah rambutan antara lain di Bekasi, Kuningan, Malang,
Probolinggo, Lumajang dan di Garut.

5. SYARAT PERTUMBUHAN
5.1. Iklim

1) Dalam budidaya rambutan angin berperan dalam penyerbukan bunga.

2) Intensitas curah hujan yang dikehendaki oleh pohon rambutan berkisar antara
1.500-2.500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun

3) Sinar matahari harus dapat mengenai seluruh areal penanaman sejak dia terbit
sampai tenggelam, intensitas pancaran sinar matahari erat kaitannya dengan
suhu lingkungan.

4) Tanaman rambutan akan dapat tumbuh berkembang serta berbuah dengan
optimal pada suhu sekitar 25 derajat C yang diukur pada siang hari. Kekurangan
sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna
(kempes).

5) Kelembaban udara yang dikehendaki cenderung rendah karena kebanyakan
tumbuh di dataran rendah dan sedang. Apabila udara mempunyai kelembaban
yang rendah, berarti udara kering karena miskin uap air. Kondisi demikian cocok
untuk pertumbuhan tanaman rambutan.

5.2. Media Tanam

1) Rambutan dapat tumbuh baik pada lahan yang subur dan gembur serta sedikit
mengandung pasir, juga dapat tumbuh baik pada tanah yang banyak mengandung
bahan organik ataui pada tanah yang keadaan liat dan sedikit pasir.
2) Pada dasarnya tingkat/derajat keasaman tanah (pH) tidak terlalu jauh berbeda
dengan tanaman perkebunan lainnya di Indonesia yaitu antara 6-6,7 dan kalau
kurang dari 5,5 perlu dilakukan pengapuran terlebih dahulu.
3) Kandungan air dalam tanah idealnya yang diperlukan untuk penanaman pohon
rambutan antara 100-150 cm dari permukaan tanah.
4) Pada dasarnya tanaman rambutan tidak tergantung pada letak dan kondisi tanah,
karena keadaan tanah dapat dibentuk sesuai dengan tata cara penanaman yang
benar (dibuatkan bedengan) sesuai dengan petunjuk yang ada.

5.3. Ketinggian Tempat

Rambutan dapat tumbuh subur pada dataran rendah dengan ketinggian antara 30-
500 m dpl. Pada ketinggian dibawah 30 m dpl rambutan dapat tumbuh namun tidak
begitu baik hasilnya.

6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan

1) Persyaratan Benih
Benih yang diambil biasanya dipilih dari benih-benih yang disukai oleh masyarakat
konsumen antara lain: Rambutan Rapiah, Rambutan Aceh, Lebak bulus,
Rambutan Cimacan, Rambutan, Rambutan Sinyonya.
2) Penyiapan Benih
Persiapan benih biji yang dipergunakan sebagai pohon pangkal setelah buah
dikupas dan diambil bijinya dengan jalan fermentasi biasa (ditahan selama 1-2
hari) sesudah itu di angin-anginkan selama 24 jam (sehari semalam) dan biji siap
disemaikan. Disamping itu dapat pula direndamdengan larutan asam dengan
perbandingan 1:2 dari air dan larutan asam yang terdiri dari asam chlorida (HCl)
25% atau Asam Sulfat (H2S04) BJ = 1.84, caranya direndam selama 15 menit
kemudian dicuci dengan air tawar yang bersih sebanyak 3 kali berulang dengan
air yang mengalir selama 10 menit dan dianginkan selama 24 jam. Untuk
menghidari jamur biji dapat dibalur dengan larutan Dithane 45, Attracol 70 WP
atau fungisida lainnya.
3) Teknik Penyemaian Benih
Teknik penyemaian benih dipilih lahan yang gembur dan mudah mendapat
pengairan serta mudah dikeringkan disamping itu mudah diawasi seperti:
mencangkul tanah sedalam 20-30 cm sambil dibersihkan dari rumput-rumput,
batu-batu dan sisa pepohonan dan benda keras lainnya. Kemudian tanah
dihaluskan sehingga menjadi gembur dan buatkan bedang-bedeng yang
berukuran 1-1,5 m lebar dan tinggi sekitar 30 cm, panjang disesuaikan dengan
luas pekarangan/persawahan. Tetapi idealnya panjang bedengan sekitar 10 m,
dengan keadaan arah membujur dari Utara ke Selatan, supaya mendapatkan
banyak sinar matahari walaupun setelah diberi atap pelindung, dengan jarak
antara bedeng 30 cm dan untuk menambah kesuburan dapat diberi pupuk hijau,
kompos/pupuk kandang yang sudah matang dan benih siap disemaikan. Selain
dengan melalui proses pengecambahan juga biji dapat langsung ditunggalkan
pada bedeng-bedeng yang sudah disiapkan, untuk menyiapkan pohon pangkal
lebih baik melalui proses pengecambahan, biji-biji tersebut ditanam pada bedengbedeng yang berjarak 10 X 10 cm setelah berkecambah dan berumur 1-1,5 bulan dan sudah tumbuh daun sekitar 2-3 helai maka bibit dapat dipindahkan dari
bedeng persemaian ke bedeng penanaman.
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Setelah bibit berkecambang dan telah berumur 1-1,5 bulan disiram pagi sore,
setelah kecambah dipindah ke bedeng pembibitan penyiraman cukup 1 kali tiap
pagi hari sampai menjelang mata hari terbit, dengan menggunakan "gembor"
supaya merata dan tidak merusak bedengan dan diusahakan air dapat menembus
sedalam 3-4 cm dari permukaan. Kemudian dilakukan pendangiran bedengan
supaya tetap gembur dan dilakukan setiap 2-3 minggu sekali, rumput yang
tumbuh disekitarnya supaya disiangi, hindarkan dari serangan hama dan penyakit,
sampai umur kurang lebih 1 tahun persemaian yang dilakukan terhadap pohon
baru setelah itu dapat dilakukan pengokulasian yang ditentukan dengan sistem
Fokkert yang sudah disempurnakan yang sebelumnya daun-daun dirontokkan
pada pohon induk yang telah dipilih mata kulitnya dan kemudian setelah disiapkan
tempat untuk penempelan mata kulit tersebut sampai mata kulit itu tumbuh tunas,
setelah itu tunas asli pada pohon induk yang telah ditempel dipangkas, kemudian
rawat dengan penyiraman 2 kali sehari dan mendangir serta membersihkan
rumput-rumput yang ada disiangi, kemudian dapat juga diberi pupuk urea 10 gram
untuk tiap 1 m² untuk 25 tanaman rambutan.
5) Pemindahan Bibit
Cara pemindahan bibit yang telah berkecambah atau di cangkok maupun
diokulasi dapat dengan mencungkil/membuka plastik yang melekat pada media
penanaman dengan cara hati-hati jangan sampai akar menjadi rusak dan
dilakukan penyungkilan sekitar 5 cm dan agar tumbuh akar lebih banyak maka
dalam penanaman kembali akar tunggangnya dapat dipotong sedikit untuk
menjaga penguapan kemudian lebar daun dipotong separuh serta keping yang
menempel dibiarkan sebab berfungsi sebagai cadangan makanan sebelum dapat
menerima makanan dari tanah yang baru. Dan ditanam pada bedeng pembibitan
dengan jarak 30-40 cm dan ditutupi dengan atap yang dipasang miring lebih tinggi
di Timur dengan harapan dapat lebih banyak kena sinar mata hari pagi.

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan
Pilihlah tanah yang subur, hindari daerah yang berkondisi tanahnya terlampau liat
dan tidak memiliki sirkulasi yang baik, meskipun pada daerah perbukitan tetapi
tanahnya subur dengan cara membuat sengkedan (teras) pada bagian yang
curam, kemudian untuk menggemburkan tanah perlu dibajak atau cukup dicangkul
dengan kedalaman sekitar 30 cm secara merata.

2) Pembukaan Lahan
Tanah yang akan dipergunakan untuk kebun rambutan dikerjakan semua secara
bersama, tanaman pengganggu seperti semak-semak dan rerumputan dibuang
dan benda-benda keras disingkirkan kemudian tanah dibajak/dicangkul. Bila bibit
berasal dari cangkokan pengolahan tanah tidak perlu terlalu dalam tetapi kalau
dari hasil okulasi perlu pengolahan yang cukup dalam. Kemudian dibuatkan
saluran air selebar 1 meter dan kedalam disesuaikan dengan kedalaman air
tanah, guna mengatasi sistem pembuangan air yang kurang lancar. Tanah yang
kurus dan kurang humus atau tanah cukup liat diberikan pupuk hijau yang dibuat
dengan cara mengubur ranting-ranting dan dedaunan dan kondisi ini dibiarkan
selama kurang lebih 1 tahun sebelumnya.

3) Pembentukan Bedengan
Setelah tanah keadaan gembur dan buatkan bedeng-bedengan yang berukuran 8
m lebar dan tinggi sekitar 30 cm dengan perataan dasar atasnya guna menopang
bibit yang akan ditanam, panjang disesuaikan dengan luas
pekarangan/persawahan. Tetapi idealnya panjang bedengan sekitar 10 m, dengan
keadaan arah membujur dari utara ke selatan, supaya mendapatkan banyak sinar
matahari pagi walaupun setelah diberi atap pelindung, dengan jarak antara
bedeng 1 m yang diharapkan untuk lalu-lintas para pekerja dan dapat
dipergunakan sebagai saluran air pembuangan, dan untuk menambah kesuburan
dapat diberi pupuk hijau, kompos/pupuk kandang yang sudah matang

4) Pengapuran
Pengapuran pada dataran yang berasal dari tambak dan juga dataran yang baru
terbentuk tidak bisa ditanami, selain tanah masih bersifat asam juga belum terlalu
subur, setelah lobang-lobang itu digali dengan ukuran penanaman di pekarangan
dan dasarnya ditaburkan kapur sebanyak 0,5 liter untuk setiap lobang guna
menetralkan pH tanah hingga mencapai 6-6,7 sebagai syarat tumbuhnya tanaman
rambutan, setelah 1 minggu dari penaburan kapur diberi pupuk kandang supaya
tanah menjadi subur.

5) Pemupukan
Setelah jangka waktu 1 minggu dari pemberian kapur pada lubang-lubang yang
ditentukan kemudian diberikan pupuk kandang sebanyak 25 kg (kurang lebih 1
blek) dan setelah 1 minggu lahan baru siap untuk ditanami bibit rambutan yang
telah jadi.

6.3. Teknik Penanaman

1) Penentuan Pola Tanaman
Penyiapan pohon pangkal sebaiknya melalui proses perkecambahan kemudian
ditanam dengan jarak 10 x 10 cm setelah berkecambah dan berumur 1-1,5 bulan
atau telah tumbuh daun sebanyak 3 helai maka bibit/zaeling dapat dipindahkan
pada bedeng ke dua dengan jarak 1-14 meter. Untuk menghindari sengatan sinar
matahari secara langsung dibuat atap yang berbentuk miring lebih tinggi ke Timur
dengan maksud supaya mendapatkan sinar matahari pagi hari secara penuh.

2) Pembuatan Lubang Tanaman
Pembuatan lubang pada bedeng-bedeng yang telah siap untuk tempat
penanaman bibit rambutan yang sudah jadi dilakukan setelah tanah diolah secara
matang kemudian dibuat lobang-lobang dengan ukuran 1 x 1 x 0,5 m yang
sebaiknya telah dipersiapkan 3-4 pekan sebelumnya dan pada waktu penggalian
tanah yang diatas dan yang dibawah dipisahkan yang nantinya dipergunakan
untuk penutup kembali lubang yang telah diberi tanaman, sedangkan jarak antar
lubang sekitar 12-14 m.

3) Cara Penanaman
Setelah berlangsung selama 2 pekan lubang ditutup dengan susunan tanah
seperti sedia kala dan tanah yang bagian atas dikembalikan setelah dicampur
dengan 3 blek (1 blek kurang lebih 20 liter) pupuk kandang yang sudah matang,
dan kira-kira 4 pekan dan tanah yang berada di lubang bekas galian tersebut
sudah mulai menurun baru rambutan ditanam dan tidak perlu terlalu dalam
secukupnya, maksudnya batas antara akar dan batang rambutan diusahakan
setinggi permukaan tanah yang ada disekelilingnya.

4) Lain-lain
Pada awal penanaman di kebun perlu diberi perlindungan yang rangkanya dibuat
dari bambu/bahan lain dengan dipasang posisi agak tinggi disebelah Timur, agar
tanaman mendapatkan lebih banyak sinar matahari pagi dari pada sore hari, dan
untuk atapnya dapat dibuat dari daun nipah, kelapa/tebu. Sebaiknya penanaman
dilakukan pada awal musim penghujan, agar kebutuhan air dapat dipenuhi secara
alamiah.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penjarangan dan Penyulaman
Karena kondisi tanah telah gembur dan mudah tanaman lain akan tumbuh kembali
terutama Gulma (tanaman pengganggu), seperti rumput-rumputan dan harus
disiangi sampai radius 1-2 m sekeliling tanaman rambutan. Apabila bibit tidak
tumbuh dengan baik segera dilakukan penggantian dengan bibit cadangan.

2) Perempalan
Agar supaya tanaman rambutan mendapatkan tajuk yang rimbun, setelah
tanaman berumur 2 tahun segera dilakukan peempelan/ pemangkasan pada
ujung cabang-cabangnya. Disamping untuk memperoleh tajuk yang seimbang
juga berguna memberi bentuk tanaman, memperbanyak dan mengatur produksi
agar tanaman tetap terpelihara. Pemangkasan juga perlu dilakukan setelah masa
panen buah berakhir dengan harapan muncul tajuk-tajuk baru sebagai tempat
munculnya bunga baru pada musim berikutnya dan hasil berikutnya dapat
meningkat.

3) Pemupukan
Untuk menjaga agar kesuburan lahan tanaman rambutan tetap stabil perlu
diberikan pupuk secara berkala dengan aturan:
a) Pada tahun ke 2 setelah penanaman bibit diberikan pada setiap pohon dengan
campuran 30 kg pupuk kandang, 50 kg TSP, 100 gram Urea dan 20 germ ZK
dengan cara ditaburkan disekeliling pohon/dengan jalan menggali disekeliling
pohon sedalam 30 cm selebar antara 40-50 cm, kemudian masukkan campuran
tersebut dan tutup kembali dengan tanah galian sebelumnya.
b) Tahun berikutnya perlu dosis pemupukan perlu ditambah dengan komposisi 50
kg pupuk kandang, 60 kg TSP, 150 gr Urea dan 250 gr ZK dengan cara
pemupukan yang sama, apabila menggunakan pupuk NPK maka
perbandingannya 15:15:15 dengan ukuran diantara 75-125 kg untuk setiap ha,
dan bila ditabur dalam musim hujan dan dengan komposisi 250-350 kg apabila
dilakukan saat awal musim penghujan.

4) Pengairan dan Penyiraman
Selama dua minggu pertama setelah bibit yang berasal dari cangkokan/okulasi
ditanam, penyiraman dilakukan sebanyak dua kali sehari, pagi dan sore. Dan
minggu-minggu berikutnya penyiraman dapat dikurangi menjadi satu kali sehari.
Apabila tanaman rambutan telah tumbuh benar-benar kuat frekuensi penyiraman
bisa dikurangi lagi yang dapat dilakukan saat-saat diperlukan saja. Dan bila
turunterlalu lebat diusahakan agar sekeliling tanaman tidak tegenang air dengan
cara membuat lubang saluran untuk mengalirkan air.

5) Waktu Penyemprotan Pestisida
Guna mencegah kemungkinan tumbuhnya penyakit/hama karena kondisi
cuaca/hewan-hewan perusak maka perlu dilakukan penyemprotan pestisida
umumnyadilakukan antara 15-20 hari sebelum panen dan juga apabila
kelembaban udara terlalu tinggi akan tumbuh cendawan, apabila musim
penghujan mulai tiba perlu disemprot fungisida beberapa kali selama musim hujan
pestisida dan insektisida
6) Pemeliharaan Lain
Untuk memacu munculnya bunga rambutan diperlukan larutan KNO(Kalsium
Nitrat) yang akan mempercepat 10 hari lebih awal dari pada tidak diberi KNOdan
juga mempunyai keunggulan memperbanyak "dompolan" bunga (tandan)
rambutan pada setiap stadium (tahap perkembangan) serta mempercepat
pertumbuhan buah rambutan.

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama pada Daun

Hama tanaman rambutan berupa serangga seperti semut, kutu, kepik, kalong dan
bajing serta hama lainya seperti, keberadaan serangga ini dipengaruhi faktor
lingkungan baik lingkungan biotik maupun abiotik. misal: ulat penggerek buah
(Dichocricic punetiferalis) warna kecoklat-coklatan dengan ciri-ciri buah menjadi
kering dan berwarna hitam, Ulat penggerek batang (Indrabela sp) membuat kulit
kayu dan mampu membuat lobang sepanjang 30 cm, Ulat pemakan daun (Ploneta
diducta/ulat keket) memakan daun-daun terutama pada musim kemarau. Ulat
Jengkal (Berta chrysolineate) pemakan daun muda sehingga penggiran daun
menjadi kering, keriting berwarna cokelat kuning.

7.2. Penyakit

Penyakit tanaman rambutan disebabkan organisme semacam ganggang
(Cjhephaleusos sp) yang diserang umumnya daun tua dan muncul pada musim
hujan dengan ciri-ciri adanya bercak-bercak kecil dibagian atas daun disertai seratserat
halus berwarna jingga yang merupakan kumpulan sporanya. Ganggang
Chaphaleuros kesimbiose dengan lumut kerek (lichen) dan dapat dijumpai pada
daun dan batang rambutan, yang nampak seperti panu sehingga ranting yang
diserang dapat mati; Penyakit akar putih disebabkan oleh cendawan (jamur)
Rigidoporus Lignosus dengan tanda rizom berwarna putih yang menempel pada akar
dan apabila akar yang kena dikupas akan nampak warna kecoklatan.

7.3. Gulma

Segala macam tumbuhan pengganggu tanaman rambutan yang berbentuk
rerumputan yang berada disekitar tanaman rambutan yang akan mengganggu
pertumbuhan perkembangan bibit rambutan oleh sebab itu perlu dilakukan
penyiangan secara rutin.

8. PANEN
8.1. Ciri dan Umur Panen

Buah rambutan yang telah matang dengan ciri-ciri melihat warna yang disesuikan
dengan jenis rambutan yang ada juga dengan mencium baunya serta yang terakhir
dengan merasakan rambutan yang sudah masak dibandingkan dengan rambutan
yang belum masak, dapat dipastikan bahwa pemanenan dilakukan sekitar bulan
Nopember sampai Februari, juga dapat dipengaruhi musim kemarau atau musim
penghujan.

8.2. Cara Panen

Cara pemanenan yang terbaik adalah dipetik beserta tungkalnya yang sudah matang
(hanya yang sudah masak) sekaligus melakukan pemangkasan pohon agar tidak
menjadi rusak. Pemangkasan dilakukan sekaligus panen agar dapat bertunas
kembali cepat berbuah apabila pemetikan tidak terjangkau dapat dilakukan dengan
menggunakan galah untuk mengkait tangkai buah rambutan secara benar.

8.3. Periode Panen

Periode pemanenan buah rambutan dilakukan pada sekitar bulan Nopember sampai
dengan Februari (masa musim penghujan). Dengan dicari buah yang masak dan
yang belum masak supaya ditinggal dulu dan kemudian dipanen kembali

8.4. Prakiraan Produksi

Apabila penanganan dan pemeliharaan semenjak pembibitan hingga panen
dilakukan secara baik dan benar serta memenuhi aturan yang ada maka dapat
diperkirakan mendapatkan hasil yang maksimal. Setiap pohonnya dapat mencapai
hasil minimal 0,10 kuintal, dan maksimal dapan mencapai 1,75 kuintal setiap
pohonnya.

9. PASCAPANEN

9.1. Pengumpulan

Setelah dilakukan pemanenan yang benar buah rambutan harus diikat secara baik,
biasanya dikumpulkan tidak jauh dari lokasi pohon sehingga selesai pemanenan
secara keseluruhan.

9.2. Penyortiran dan Penggolongan
Tujuan penyortiran buah rambutan yang bagus agar harga jualnya tinggi, biasanya
dipilih berdasarkan ukuran dan mutunya, buah yang kecil tetapi baik mutunya dapat
dicampur dengan buah yang besar dengan sama mutunya, yang biasanya dijual
dalam bentuk ikatan dan perlu diingat bahwa dalam 1 ikatan diusahakan sama besar
dan sama baik mutunya. Dan dilakukan sesuai dengan jenis rambutan, jangan
dicampur adukkan dengan jenis yang lain.

9.3. Penyimpanan
Penyimpanan yang terbaik untuk mengawetkan buah rambutan biasanya dilakukan
dengan jalan dibuat asinan/manisan dan dimasukkan dalam kaleng/botol atau dapat
juga dengan menggunakan kantong plastik. Hal ini dapat menjaga kesterlilan dan
ketahanan serta lama penyimpanannya.

9.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Hasil jual dapat tinggi tidak tergantung dari rasanya saja,tetapi pada kenampakandan cara pengikatannya,apabilaakan dijual tidak jauh dari lokasi maka cukup diikat dan kemudian di angkut dengan kendaraan/dimasukkan dalam karung. Untuk pengiriman dengan jarak yang agak jauh (antar pulau) yang membutuhkan waktu hingga 2-3 hari lamanya perjalanan rambutan. Caranya di pak dengan menggunakan peti sebelum dipilih dan di pak sebaiknya dicuci terlebih dahulu dengan air sabun dan dibilas kemudian dikeringkan, setelah dipisah dari tangkainya, apabila ada yang terkena jamur sebaiknya direndam dulu dengan larutan soda 1,5% selama 3-5 menit kemudian disikat dengan sikat yang lunak. Setelah itu disusun berderet berbentuk sudut terhadap sisi peti, yang sebelumnya dialasi dengan lumut/ sabut kelapa, setelah itu dilapisi dengan kertas minyak. Setelah penuh lapisan atas dilapisi lagi dengan kertas minyak dan dengan sabut kelapa yang terakhir ditutup dengan papan, sebaiknya kedua sisi panjang dibentuk agak gembung, biasanya penempatan peti bagian yang pendek ditempatkan dibawah didalam perjalanan.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
10.1 Analisis Usaha Budidaya

Untuk mendukung perhitungan analisis usaha tani rambutan secara konvensional
ada beberapa hal yang perlu diketahui antara lain:

1) Tanaman rambutan dibudidayakan secara pencangkokan atau mengokulasi
dengan jarak tanam 12-14 m sehingga populasi tanaman setiap hektar mencapai
1000 tanaman.

2) Varietas tanaman rambutan yang dibudidayakan merupakan jenis yang disukai
konsumen.

3) Di lokasi penanaman diusahakan yang dekat dengan sumber air, dekat dengan
sipekerja.

4) Tenaga kerja dibedakan menjadi dua yakni tenaga kerja pria (HKP) dan tenaga
kerja wanita (HKW), dengan ongkostenaga kerja pria lebih tinggi dari pada tenaga
kerja wanita dengan jam kerja per harinya 8 jam.

5) Budidaya rambutan dilakukan pada musim (Maret-September).

10.2.Gambaran Peluang Agribisnis

Buah rambutan merupakan buah populer di kawasan ASEAN, khususnya di tanh air
dn di negara Jiran Malaysia tempat asal buah rambutan. Buah rambutan dapat
dikonsumsi langsung (buah segar) ataupun diolah menjadi buah kalen dan manisan
buah rambutan.

Rambutan selain sebagai buah segar yang digemari, hasil olahannya pun menjadi
komoditi primadona yang memiliki prospek cukup cerah di Asia dan di negara-negaralainnya. Pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri masih merupakan lahan pemasaran yang menjanjikan. Sehingga sangat tepat untuk membudidayakan buah rambutan secara intensif dengan didukung kondisi alam yang ada.

11. STANDAR PRODUKSI
11.1.Ruang Lingkup

Standard produksi ini meliputi: klasifikasi/penggolongan dan syarat mutu, cara
pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan cara pengemasan.

11.2.Diskripsi

Buah rambutan segar adalah buah dari tanaman rambutan (Nephelium lappaceum
Linn) dalam tingkat ketuaan optimal, utuh, segar dan bersih. Standar buah rambutan
di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-3210-1992.

11.3.Klasifikasi dan Standar Mutu

Buah rambutan segar untuk masing-masing kultvar, digolongkan dalam 2 buah jenis,
yaitu: Mutu I dan Mutu II.
Klasifikasi berdasarkan ukuran berat adalah sebagai berikut:
a) Binjai: besar maksimum 20 kg; kecil : > 20 kg
b) Lebak Bulus: besar maksimum 35 kg; kecil > 35 kg
c) Rapiah: besar maksimum 30 kg; kecil > 30 kg
d) Simacan: besar maksimum 40 kg; kecil > 40 kg
Persyaratan mutu untuk buah rambutan adalah sebagai berikut:
a) Keseragaman Kultivar: mutu I seragam; mutu II seragam
b) Keseragaman Ukuran: mutu I seragam; mutu II kurang seragam
b) Tingkat Kesatuan Buah: mutu I tepat; mutu II kurang Tepat
c) Tingkat Kesegaran Buah: mutu I segar; mutu II kurang segar
d) Buah cacat/busuk: mutu I 0%; mutu II 0%
e) Bentuk ikatan: mutu I maksimum 10 cm; mutu II maksimum 10 cm
f) Bentuk buah lepas: mutu I maksimum. 0,5 cm; mutu II maksimum 0,5 cm
g) Kadar Kotoran: mutu I 0%; mutu II 0%
h) Serangga hidup/mati: mutu I tidak ada; mutu II tidak ada

11.4.Pengambilan Contoh

Satu partai/lot buah rambutan segar terdiri dari maksimum 1.000 kemasan. Contoh
diambil secara acak dari jumlah kemasan dalam 1 (satu) partai/lot.
a) Jumlah kemasan dalam partai/lot 1 s/d 5, contoh pengambilan semua
b) Jumlah kemasan dalam partai/lot 6 s/d 100, contoh pengambilan sekurangkurangnya
5
c) Jumlah kemasan dalam partai/lot 101 s/d 300, contoh pengambilan sekurangkurangnya
7
d) Jumlah kemasan dalam partai/lot 301 s/d 500, contoh pengambilan sekurangkurangnya
9
e) Jumlah kemasan dalam partai/lot 501 s/d 1000, contoh pengambilan sekurangkurangnya
10
Petugas pengambil contoh harus orang yang memenuhi persyaratan yaitu orang
yang telah berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan
suatu badan hukum.

11.5.Pengemasan

Buah rambutan segar disajikan dalam bentuk ikatan atau lepas, dibungkus bahan
kertas, jaring plastik atau bahan laian yang sesuai, lalu dikemas dengan keranjang
bambu atau kotak karton/kayu/bahan lain yang sesuai dengan atau tanpa
penyangga, dengan berat bersih maksimum 10 kg.
Pada bagian luar kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain :
a) Dihasilkan di Indonesia.
b) Nama barang/kultivar.
c) Golongan ukuran.
d) Jenis mutu.
e) Nama perusahaan/eksportir.
f) Berat bersih/kotor.

12. DAFTAR PUSTAKA

1) Mahisworo, Kusno Susanto dan Agustinus Anung, Bertanam Rambutan; Jakarta:
Penebar Swadaya, 1991, cet ke-3. 80p; 21 cm.
2) Rahardi F.; Rina Nirwan S. dan Iman Satyawibawa, Agribisnis tanaman
perkebunan. Jakarta: Penebar Swadaya, 1994. Vi + 67p; ilus.; 21 p.
Jakarta, Februari 2000
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS

Kamis, 03 November 2011

Contoh Surat Perjanjian Jual Beli Rumah

SURAT PERJANJIAN
JUAL BELI RUMAH


Pada hari ini, Minggu tanggal sebelas bulan Nopember tahun dua ribu sebelas, kami yang bertanda tangan di bawah ini :
1. Drs. H. Ahmad Dahlan, karyawan, bertempat tinggal di Jl. Ujung Kulon RT 015/ RW 009, dalam hal ini bertindak untuk dan atas namanya sendiri yang selanjutnya disebut juga sebagai Pihak Pertama

2. Asep, buruh bangunan, bertempat tinggal di Jl. Damai 5 No. 9 Cipete Utara Kebayoran Baru Jakarta Selatan, dalam hal ini bertindak untuk dan atas namanya sendiri yang selanjutnya akan disebut sebagai Pihak Kedua


Kedua belah pihak telah sepakat dalam perjanjian jual beli sebidang tanah beserta rumah yang berdiri diatas Sertifikat Hak Milik No 123456.356 yang terletak di Jl. Muara Atas No. 999 RT 0400/ RW 090, Kelurahan Jauh Kecamatan Dekat, Kabupaten lebih dekat.

Kedua belah pihak sepakat untuk mengikatkan diri dalam perjanjian ini dengan syarat-syarat sebagai berikut

Pasal 1
PERPINDAHAN KEPEMILIKAN

1. Perjanjian jual beli ini berlaku lima hari setelah ditandatanganinya perjanjian ini dan akan berakhir setelah rumah berpindah status kepemilikannya kepada pihak kedua.
2. Proses perpindahan kepemilikan rumah akan diurus oleh pihak kedua berikut tanggungan yang timbul dan pihak pertama hanya akan membantu kelancaran kepengurusan saja.
3. Perpindahan kepemilikan hanya akan diproses setelah semua kewajiban pihak kedua dipenuhi.

Pasal 2
NILAI JUAL BANGUNAN DAN TANAH

1. Rumah dijual seharga Rp 170.000.000,-
2. Uang muka penjualan rumah adalah sebesar minimal 10% dari Rp 170.000.000,-
(Rp 20.000.000,-) yang harus sudah dibayar oleh Pihak Kedua secara tunai oleh Pihak Pertama pada saat ditandatanganinya perjanjian ini
3. Pembayaran berikutnya akan dilakukan 2 (dua) bulan dari tanggal penandatangan perjanjian ini untuk kepengurusan KPR oleh Pihak Kedua
4. Pembayaran dianggap lunas bila pembayaran sudah mencapai nilai jual yang telah disepakati


Pasal 3
KETERLAMBATAN BAYAR

1. Keterlambatan pembayaran dari tanggal pada pasal 2 butir (3) akan dikenakan pembatalan perjanjian jual beli

Pasal 4
KEWAJIBAN-KEWAJIBAN LAIN

1. Pihak Pertama wajib membayar iuran Pajak Bumi dan Bangunan sampai proses pemindahan kepemilikan selesai
2. Pihak Kedua wajib membayar iuran listrik rumah dan iuran warga setempat
3. Pihak Kedua tidak diperkenankan untuk mengubah fungsi serta peruntukkan sebagai rumah tinggal sampai pembayaran dianggap lunas

Pasal 5
LAIN-LAIN

1. Pihak Kedua atas tanggungan sendiri dapat melakukan perubahan pada rumah yang tidak akan mengubah konstruksi dan NJOP dan tambahan tersebut harus merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan menjadi milik Pihak Pertama
2. Perubahan sebagaimana dimaksud dalam butir (1) harus dengan ijin tertulis dari Pihak Pertama
3. Pihak Pertama menjamin Pihak Kedua bahwa selama masa perjanjian ini berlaku, Pihak Kedua tidak akan mendapatkan tuntutan dan atau gugatan dari pihak lain yang menyatakan mempunyai hak atas tanah dan rumah tersebut
4. Pihak kedua akan mendapatkan hak kepemilikan secara penuh apabila pembayaran telah dinyatakan lunas
5. Segala kerusakan kecil maupun besar dari rumah tersebut menjadi tanggungan sepenuhnya dari Pihak Kedua tanpa kecuali
6. Segala ketentuan yang belum diatur dalam perjanjian ini akan diatur selanjutnya dalam addendum/amandemen yang merupakan bagian tak terpisahkan dari perjanjian ini dan akan diputuskan secara bersama
7. Apabila terjadi sengketa atas isi dan pelaksanaan perjanjian ini, kedua belah pihak akan menyelesaikannya secara musyawarah
8. Apabila penyelesaian secara musyawarah tidak berhasil, maka kedua belah pihak sepakat untuk memilih domisili hukum dan tetap di kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.


Demikian perjanjian ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan dihadiri saksi-saksi yang dikenal oleh kedua belah pihak serta dibuat rangkap dua bermeteri cukup yang masing-masing mempunyai kekuatan hukum yang sama.

Semoga ikatan perjanjian ini membawa berkah bagi semua pihak.


Pihak Pertama Pihak Kedua




( Drs. H. Ahmad Dahlan ) ( S l a m e t )


Saksi-saksi:


1. Saksi I : ____________________



2. Saksi II : ____________________



Dokumen yang harus di lengkapi