Jumat, 13 April 2012

Hebat ! Raja Arab Saudi Turun Tangan 'Jinakkan' Harga Minyak Dunia

Jakarta - Eksportir minyak top dunia, Arab Saudi berniat menurunkan harga minyak. Saat ini Saudi sedang bekerjasama dengan anggota OPEC lainnya demi mencapai target tersebut.

“Kami melihat tingginya harga minyak sudah berkepanjangan dan Kerajaan tidak senang. Kami akan mengusahakan harga minyak turun,” kata Menteri Perminyakan, Ali al-Naimi saat mengunjungi Seoul, dikutip dari CNBC (13/4/2012).

Para investor minyak mencemaskan cadangan minyak kacau terpengaruh situasi tegang di Timur Tengah akibat program nuklir Iran. Terutama setelah AS dan Eropa menerapkan sanksi target ekspor kepada Iran yang merupakan produsen terbesar nomor dua di OPEC itu.

“Secara fundamental, pasar stabil karena tidak ada kekurangan suplai. Arab Saudi sudah berinvestasi untuk mempertahankan kapasitasnya. Kami akan menggunakan cadangan produksi untuk menyuplai pasar minyak dengan kebutuhan penambahan volume berapa pun,” kata al-Naimi.

Menurut al-Naimi, Saudi telah menaikkan produksi jadi 10 juta barel per hari di bulan April. Ini merupakan jumlah produksi tertinggi Saudi sejak November, ketika mereka memompa minyak paling banyak dari yang pernah dilakukan selama satu dekade terakhir.

Negara anggota OPEC lain seperti Libya, Irak dan Angola juga meningkatkan produksi, memastikan persediaan minyak dunia dalam kapasitas penuh. Maret lalu, Saudi memproduksi 9.9 barel per hari.

Ali al-Naimi mengatakan siap memproduksi dengan kapasitas paling maksimal yaitu 12.5 barel per hari bila dibutuhkan. Menurutnya lagi, harga ideal per barel bagi produsen dan konsumen awal tahun ini adalah USD 100.

The International Energy Agency kemarin mengatakan, kekurangan suplai minyak yang terjadi dua tahun belakangan sudah berakhir. Itu karena jumlah permintaan menurun setelah negara-negara menerapkan kebijakan energi baru dan produsen minyak terbesar dunia, Arab Saudi sudah meningkatkan produksinya.

“Daripada masalah suplai, tingginya harga minyak dunia lebih terpengaruh ketegangan di Timur Tengah dan Korea Utara. Resiko ini belum akan berakhir dalam waktu dekat,” kata Ben Le Brun, analis pasar OptionsXpress di Sydney.

Konsumen terbesar Iran yakni China, Jepang dan Korea sudah memangkas impor minyaknya selama Januari-Februari 2012. Pengetatan sanksi menyebabkan aktifitas bisnis di Teheran hampir mustahil dilakukan.

Pada Maret lalu, produksi Iran turun 50.000 menjadi 3.3 juta barel per hari. Embargo yang makin meluas di paruh kedua tahun ini mungkin akan memaksa produksi Iran turun hingga 250.000 barel per hari dibandingkan akhir tahun 2011.

http://finance.detik.com/read/2012/04/13/161855/1891992/1034/raja-arab-saudi-turun-tangan-jinakkan-harga-minyak-dunia?991101mainnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar