Jumat, 24 Februari 2012

Investasi Tanah dan Rumah Semakin Menjanjikan

Jakarta - Investasi merupakan dana lebih yang dicadangkan masyarakat demi mendapat imbal hasil di kemudian hari. Dari sekian banyak instrumen investasi, tanah adalah yang paling menjanjikan. Ini terbukti dengan kenaikan rata-rata per tahun 15% pada instrumen tanah.

Menurut Ekonom Standard Chartered Indonesia, Fauzi Ichsan, pasar finansial masih diselimuti ketidakpastian. Meski komitmen IMF, ECB dan Uni Eropa melakukan penyelematan bersyarat atas Yunani, aksi yang dilakukan investor adalah wait and see.

Selama itu, investor cenderung melarikan dananya ke instrumen yang dinilai aman (safe heaven) seperti mata uang dollar AS, ataupun emas. Kedua instumen ini bukan pula dikatakan investasi aman.

Emas meski naik, namun volatilitasnya sangat tinggi. Mata uang dollar AS juga diselimuti kekhawatiran, saat bank sentral AS (The Fed) terus mencetak uang untuk mennstimulus ekonomi dalam negeri mereka.

"Maka yang paling baik adalah tanah, apalagi dengan didukung oleh KPR (Kredir Pemilikan Rumah). Masyarakat kita juga cenderung menghadirkan rumah dulu dibandingkan investasi di pasa finansial," jelas Fauzi di Kampus FE UI, Depok, Kamis (23/2/2012).

"Apalagi kecenderungan bunga deposito lebih rendah. Sekitar 6%-7%. Pada males ke deposito. Bnyk ke tanah. Semakin banyak membeli sawah, dan bukan lagi tuan tanah yang menunggui tanahnya. Tapi pembeli tanah adalah investor di kota. Jadi bergeser," paparnya.

Meski demikian, potensi investasi pada instrumen saham masih terbuka lebar. Dalam jangka panjang, ekonomi Indonesia akan tumbuh dan berdampak pada aliran modal yang makin deras.

Bagi Standard Chartered Indonesia, prospek bisnis terbaik ada pada seektor konsumer ritel seperti otomotif, rokok, semen, dan lain-lain. Sektor ini dianggap paling kebal terhadap krisis yang masih menyelimuti dunia. Konsumer juga ditopang oleh pertumbuhan PDB dan suku bunga global yang relatif rendah.

"Investor sudah mulai hilang kepercayaan terhadap mata uang. Kalau ga ke saham, ya ke komoditas dan properti. Yang gampang ke lahan. Berdampak positif ke emiten properti, tapi lebih ke pemilik properti langsung. Makanya kalau punya uang, beli tanah sekarang," tegasnya.

http://finance.detik.com/read/2012/02/23/144052/1849980/1016/makin-diminati-investasi-tanah-paling-menjanjikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar